Dusta Kepada Allah dan Rasul-Nya, Dosa Besar Yang Tidak Terkira,

kesyirikan

Tidak ada perbuatan yang lebih cepat mengantarkan manusia kepada dosa selain perbuatan dusta. Sebagaimana telah dijelaskan dalam kajian sebelumnya, dusta dengan segala bentuknya merupakan akar dari segala keburukan. Betapa banyak perbuatan-perbuatan dosa yang muncul dari sifat dusta. Sebaliknya, betapa banyak kebaikan-kebaikan yang tumbuh dari sikap jujur dalam perbuatan. Maka benarlah yang dikatakan baginda Nabi SAW;

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ , وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ صِدِّيقًا . وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan kepada sorga. Dan sesungguhnya seseorang senantiasa jujur sehingga ia ditulis oleh Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan dapat menunjukkan kepada perbuatan dosa dan perbuatan dosa dapat memasukan ke dalam neraka, seseorang senantiasa berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dusta Kepada Allah

Ternyata kedustaan yang dilakukan manusia tidak terbatas kepada sesama manusia saja. Allah pun tidak luput dari kedustaannya.  Inilah seburuk-buruk kedustaan yang diperbuat manusia. “Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim.” Begitulah bunyi Surat Ali Imron ayat 94 menjelaskan dhalimnya kedustaan atas nama Tuhan.

Kedustaan kepada Allah adalah sebesar-besar kedustaan. Kedustaan kepada Allah ada kalanya berupa;

1. syirik

Yaitu menyekutukan Allah dengan makhluknya dalam hal peribadatan maupun dalam sifat-sifat ketuhanan.

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa. Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan…” (Qs. Yunus : 17-18)

Dalam ayat diatas Allah menyebut kedustaan terhadap Allah berupa syirik sebagai kedhaliman yang paling besar diatas perbuatan-perbuatan dhalim lainnya. Dan memang syirik kepada Allah disebut-sebut sebagai kedhaliman terbesar dan selalu menempati rangking pertama dalam peringkat dosa-dosa besar yang telah disebut Allah dan rasul-Nya. Apa pun motifnya, dusta kepada Allah akan membawa kebinasaan bagi pelakunya. Oleh karena itu Allah berfirman;

قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّـهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung”.(Qs. Yunus 69)

2. Menafsirkan Firman Allah Berdasar Hawa Nafsunya

Menafsirkan Al-Qur’an memerlukan perangkat  ilmu tafsir yang memadai. Untuk mengetahui hakikat firman Allah seseorang harus mempunyai pengetahuan dalam ilmu bahasa Arab dengan segala macam cabang-cabangnya, mengerti ilmu fiqih, ushul fiqih, ilmu hadits dan sebagainya. Semua itu mutlak diperlukan agar seseorang tidak terjebak dalam penafsiran ayat Allah dengan hawa nafsunya. Padahal menafsirkan firman Allah hanya berdasar prasangka dan hawa nafsu diancam oleh Rasulullah SAW dengan ancaman yang keras, yaitu adzab neraka. Rasulullah SAW bersabda;

مَنْ قَالَ فِي القُرآنِ بِرأيِهِ ، فَلْيَتَبوأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang berkata tentang Al-Qur’an semata-mata dengan akalnya, maka hendaknya ia bersiap-siap menempati tempat duduknya di neraka” (HR. Nasa’i)

3. Mengaku Mendapat Wahyu

Kedustaan kepada Allah juga bisa dalam bentuk mengaku-ngaku mendapat wahyu dari Allah. Sebagai seorang muslim kita wajib mengimani bahwa sudah tidak ada lagi nabi dan rasul sepeninggal Rasulullah SAW. Maka bila ada orang yang mengaku-ngaku menjadi nabi karena telah mendapat wahyu dari Allah, maka sudah bisa dipastikan bahwa orang itu adalah pendusta. Allah berfirman dalam Qs. Al-An’am ayat 93

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah…”

Kemunculan orang-orang yang mengaku mendapat wahyu dan mengaku sebagai nabi sebenarnya bukan suatu hal yang aneh, mengingat Nabi kiat Muhammad SAW telah mengkabarkannya 14 abad yang silam;

سَيَكُوْنُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُوْنَ ثَلَاثُوْنَ ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ ، وَ أَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ ، لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Akan muncul dikalangan umatku tiga puluh pendusta, semua mengaku bahwa ia adalah nabi. Padahal aku adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi sepeninggalku” (HR. Ahmad)

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثلاثين كلُّهم يزعم أنَّه رسول الله

“Tidak akan terjadi kiamat sehingga akan dibangkitkan para dajjal pendusta yang berjumlah sekitar tiga puluh orang semuanya mengaku bahwa mereka adalah rasul Allah” (HR. Bukhori)

Dusta Kepada Rasulullah

Kedustaan kepada Rasulullah adalah kedustaan terbesar nomer dua setelah kedustaan kepada Allah. Kedustaan kepada Rasulullah adalah mengatakan sesuatu yang diatasnamakan Rasulullah padahal Rasulullah tidak pernah mengatakannya. Kedustaan kepada Rasulullah mempunyai konsekwensi yang berat yang sama kedustaan kepada Allah, yaitu diancam dengan adzab neraka. Rasulullah telah menyatakan;

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang berdusta atasnamaku, maka hendaknya ia memeprsiapkan tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhori)

Maka hendaknya para da’i berhati-hati dalam menyampaikan suatu hadits. Jangan sampai ia menyampaikan hadits-hadits maudhu’ atau hadits palsu kepada umat hanya agar umat percaya dengan apa yang disampaikan, atau sekedar untuk menguatkan pendapatnya yang belum tentu benar. Karena meriwayatkan hadits-hadits palsu termasuk kedustaan kepada Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda;

مَنْ رَوَى عَنِّي حَدِيثًا ، وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَذَّابِينَ

“Barangsiapa yang meriwayatkan suatu hadits dariku, padahal dia mengetahui bahwa hadits itu dusta, maka ia termasuk salah satu diantara pendusta” (HR. Bukhari & Muslim)

Author: Cak Imron

Pengajar di pondok pesantren Hidayatullah Gresik sekaligus da'i kampung (mu'allim quro). Belajar menjadi seorang penulis bebas yang menuangkan ide, gagasan dan hikmah yang didapat melalui tulisan, diantaranya blog pribadi ini. Berharap apa yang ditulis mendapat ridha Allah dan bermanfaat serta menginspirasi banyak orang untuk berbuat kebaikan