Catatan Cak Imron https://imron.me Hidup Bermanfaat dan Bermartabat Fri, 04 Jun 2021 09:13:03 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.5.5 https://imron.me/wp-content/uploads/2020/11/cropped-imron-m-1-32x32.png Catatan Cak Imron https://imron.me 32 32 184817041 galerikoe https://imron.me/galerikoe/ Wed, 19 May 2021 22:34:10 +0000 https://imron.me/?p=1102 The post galerikoe appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>

The post galerikoe appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
1102
Sst.. Jangan Asal Nge-Share, Bisa Berdosa! https://imron.me/jangan-asal-nge-share-bisa-berdosa/ Mon, 21 Dec 2020 02:54:24 +0000 https://imron.me/?p=913 Sahabat, saat ini apa sih yang nggak bisa dilakukan oleh orang untuk mendapat informasi?. Dengan berbagai kecanggihan teknologi dan informasi begitu mudahnya seseorang mengakses berbagai...

The post Sst.. Jangan Asal Nge-Share, Bisa Berdosa! appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
Sahabat, saat ini apa sih yang nggak bisa dilakukan oleh orang untuk mendapat informasi?. Dengan berbagai kecanggihan teknologi dan informasi begitu mudahnya seseorang mengakses berbagai informasi. Beragamnya media sosial seperti facebook, whatsapp, twitter, instagram dan lain sebagainya turut memberi andil bagi kemudahan akses dan berbagi.

Yah, hanya dengan berbekal hape android seharga 500 ribuan dengan paket internet yang dijual murah berbagai informasi sudah bisa berada di genggaman tangan. Nah, sekarang tinggal kita bagaimana mensikapi setiap informasi yang kita lihat dan kita baca itu. Ada yang kritis dalam menerima setiap informasi yang didapat namun banyak juga yang menjadi ‘pipa ledeng’ dalam menerima informasi yang dibaca dan didengar. Semua informasi yang diperoleh ditelan mentah-mentah bahkan dishare ke media-media sosial. Padahal informasi-informasi diberbagai media, terutama online tak jarang yang sifatnya seperti sampah dan comberan yang berisi penyakit dan kotoran, yang berisi berita dusta dan fitnah, spam, berita sampah yang dalam istilah dunia maya disebut hoax, yaitu kejadian bohong yang sengaja dibuat-buat.

Pernah nggak sih membaca berita di media sosial, entah facebook, twitter atau yang lain tentang gambar seorang pemuda yang menginjak Al-Qur’an kemudian di sebelahnya terdapat gambar pemuda tadi yang tiba-tiba sudah berubah wujud menjadi seorang yang berkepala manusia dan berbadan ular kemudian diberi komentar “akibat orang yang menghinakan Al-Qur’an, dikutuk oleh Allah sehingga menjadi ular berkepala manusia”. Berita ini kemudian menyebar dan menjadi viral diberbagai media sosial. Dan gambar manusia berbadan ular yang dikatakan kutukan Tuhan tersebut juga ternyata hasil editan photoshop, software pengolah gambar. Maunya membela Al-Qur’an tapi dengan menyebar berita bohong, akhirnya jadi bumerang dan bikin malu umat. Kesannya umat Islam boleh membela agamanya meski dengan cara-cara bohong dan dusta. Sahabat! Dengan kecanggihan teknologi apa sih yang nggak bisa dilakukan orang? Saya pun pernah foto bareng dengan pak SBY, bertemu dengan Usamah bin Ladin bahkan perang di Afghanistan bersama Rambo. Namun itu hanya di photoshop. Hehehe….

Padahal sebagai seorang muslim, setiap informasi yang diperoleh seharusnya;
Pertama, diverifikasi dan diteliti terlebih dahulu apakah informasi ini memang benar adanya. Yang menurut istilah dalam surat Al-hujuraat ayat 6, dalam menerima berita maka hendaklah “fatabayyanuu” atau melakukan klarifikasi. Setelah dipastikan informasi yang didapat adalah benar maka, Kedua, dipikirkan dulu isi beritanya, kira-kira layak nggak untuk dikonsumsi atau dibaca. Kalau dinilai layak, maka Ketiga, Apa perlu di-share atau disebar? Eits… tunggu dulu! kudu dipikirkan dong efek atau akibat kalau informasi itu disebar atau di-share. Apakah membawa kebaikan ataukah malah mendatangkan keburukan.

Sebab kalau tidak, bisa-bisa kita menjadi agen penyebar berita hoax, berita dusta dan fitnah. Berperan serta dalam munculnya keresahan dan kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Maka cukuplah kita renungkan peringatan Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang itu berdosa ketika ia menceritakan setiap apa yang dia dengar” (HR. Muslim)

Ya iyalah, bagaimana nggak berdosa wong berita yang yang dia terima asal saja disebar keman-mana. Padahal apa yang setiap didengar dan dibaca belum tentu benar dan dipercaya. Boleh jadi itu adalah hoax, fitnah, dusta, black campaign dan sebagainya. Dia tak ubahnya ‘talang’ yang mengalirkan setiap apa yang lewat. Terlebih banyak media besar dan mainstream sekarang ini yang dikuasai orang-orang kafir, orang fasik dan munafik.

Maka dalam bahasa teknologi informasi atau IT, mungkin lebih tepatnya kalau sabda Nabi yang mulia diatas diterjemahkan menjadi, “Cukuplah seseorang itu berdosa, ketika ia asal nge-share setiap apa yang dia baca”

The post Sst.. Jangan Asal Nge-Share, Bisa Berdosa! appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
913
Membantu Orang Lain dalam Kedzaliman https://imron.me/membantu-orang-lain-dalam-kedzaliman/ Wed, 16 Dec 2020 22:59:48 +0000 https://imron.me/?p=904 Salah satu perilaku yang dibenci oleh Allah adalah perilaku aniaya atau dzalim, baik dzalim kepada diri sendiri dengan mengerjakan perbuatan maksiat atau lebih-lebih dzalim kepada...

The post Membantu Orang Lain dalam Kedzaliman appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
Salah satu perilaku yang dibenci oleh Allah adalah perilaku aniaya atau dzalim, baik dzalim kepada diri sendiri dengan mengerjakan perbuatan maksiat atau lebih-lebih dzalim kepada orang lain dengan menimpakan madhorot dan marabahaya. Ini karena Allah itu lebih mencintai sifat adil sebagai lawan dari sifat dzalim. Dalam hadits qudsy Allah berfirman, “Wahai Hamba-Ku sesungguhnya Aku telah mengharamkan kedzaliman atas diri-Ku, maka Aku jadikan kedzaliman itu diharamkan antara kalian maka janganlah kalian saling mendzalimi”

Tidak hanya pelaku kedzaliman saja yang dimurkai dan dibenci oleh Allah, tetapi orang-orang yang ikut serta membantu orang lain berbuat dzalim dosanya tetap dipandang oleh Allah sama dengan pelaku kedzaliman. Allah telah mengharamkan seseorang untuk membantu orang lain dalam berbuat dzalim. Karena  itulah Allah mengancam bani Israel dengan kehinaan di dunia dan  adzab yang pedih pada hari kiamat kelak karena perilaku mereka yang suka tolong menolong dalam perbuatan dzalim.

تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِم بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“ … kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan” (Qs. Albaqarah: 85)

Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat dzalim adalah haram dan membantu perbuatan dzalim termasuk bagian dari kedzaliman itu sendiri. Banyak hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang memberi peringatan keras kepada umatnya untuk tidak berbuat dzalim kepada orang lain maupun membantu orang lain berbuat dzalim. Diantaranya adalah sabda beliau ;

إنَّ اللهَ تعالى يُعذِّبُ يومَ القيامةِ ، الَّذينَ يُعذِّبونَ النَّاسَ في الدُّنْيا

“Sesungguhnya Allah ta’ala pada hari kiamat kelak akan mengadzab orang-orang yang menyiksa manusia di dunia” (HR. Ahmad)

إنَّ أشدَّ الناسِ عذابًا يومَ القيامةِ أشدُّهم عذابًا للناسِ في الدنيا

“Sesungguhnya manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiamat kelak adalah yang paling keras menyiksanya kepada manusia di dunia” (HR. Ahmad)

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ، عَارِيَاتٌ، مُمِيلاَتٌ، مَائِلاتٌ، رُؤُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari calon penghuni neraka yang aku belum pernah melihat mereka. Yaitu suatu kaum yang membawa cemeti laksana ekor sapi yang digunakan untuk menyiksa manusia. Dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, berjalan berlenggak-lenggok untuk menarik lawan jenisnya, kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidak akan masuk sorga dan tidak pula mendapat baunya. Padahal sesungguhnya bau sorga itu tercium dari jarak sekian-sekian” (HR. Bukhari)

ممَنْ أَعَانَ عَلَى خُصُومَةٍ بِظُلْمٍ، أَوْ يُعِينُ عَلَى ظُلْمٍ؛ لَمْ يَزَلْ فِي سَخَطِ اللَّهِ حَتَّى يَنْزِعَ

“Barangsiapa yang membantu permusuhan dengan kedzaliman, atau membantu suatu kedzaliman, maka ia senantiasa dalam kemurkaan Allah sehingga ia berlepas darinya” (HR. Abu Dawud)

مَثَل الَّذِي يُعِينُ قَوْمَهُ عَلَى غَيْرِ الْحَقِّ كَمَثَل بَعِيرٍ تَرَدَّى فِي بِئْرٍ فَهُوَ يَنْزِعُ مِنْهَا بِذَنَبِهِ

“Perumpamaan orang yang membantu kaumnya untuk berbuat perbuatan yang tidak dibenarkan itu seperti onta yang terperosok ke dalam sumur, dia berusaha mengangkat onta itu dengan ekornya” (HR. Abu Dawud)

Artinya ia terjatuh dalam perbuatan dosa. Ibarat onta yang terperosok kedalam sumur yang seseorang berusaha untuk menolongnya dengan menarik ekornya, maka hampir mustahil ia bisa mengeluarkan onta itu dari dalam sumur. Maka menolong orang lain agar lebih leluasa melakukan kedzaliman adalah suatu musibah besar bagi orang yang bersangkutan dan bagi orang lain. Dan Rasulullah SAW berlepas diri dari pelaku kedzaliman dan orang-orang yang membantu kedzaliman orang lain.

منْ أَعَانَ ظَالِماً لِيُدْحِضَ بِبَاطِلِهِ حَقّاً فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ الله وَذِمَّةُ رَسُولِهِ

“Barangsiapa yang membantu orang berbuat dzalim untuk melenyapkan kebenaran dengan kebatilan yang dilakukan, maka ia telah terlepas dari jaminan Allah dan rasulnya” (HR. Abu Dawud)

Perkataan Salaf tentang Membantu Pebuatan Dzalim

Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal ketika beliau dipenjara karena menentang dogma penguasa tentang ‘Al-Qur’an adalah Makhluq’ salah seorang sipir penjara bertanya kepada beliau perihal hadits-hadits yang menerangkan tentang membantu orang berbuat dzalim. Sipir bertanya, “Apakah aku termasuk orang yang menolong kedzaliman?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak, engkau tidak menolong kedzaliman. Yang menolong kedzaliman adalah bila ada orang yang menjahitkan bajumu, atau memasakkan makananmu, atau menolongmu dalam perkara ini dan itu. Adapun engkau adalah pelaku kedzaliman itu sendiri !”

Diriwayatkan pula, pada suatu hari datanglah seorang penjahit mengahadap Sufyan At-Tsauri dan berkata kepada beliau, “Aku adalah tukang jahit kerajaan” Saat itu raja yang memerintah adalah raja yang sangat dzalim kepada rakyatnya. “Apakah aku termasuk orang yang membantu berbuat dzalim?” Tanyanya. Sufyan Ats-Tsauri menjawab, “Bahkan engkau adalah termasuk pelaku kedzaliman itu sendiri. Sesaungguhnya yang membantu berbuat dzalim adalah bila ada orang yang membelikan benang atau jarum untukmu”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata; Para salaf telah banyak yang mengatakan bahwa para pembantu kedzaliman adalah orang-orang yang menolong orang lain dalam berbuat dzalim meskipun mereka sekedar menyiapkan tinta atau pena untuk orang yang berbuat dzalim. Bahkan ada pula diantara salaf yang berkata bahwa mencucikan baju orang yang berbuat dzalim termasuk kedzaliman itu sendiri. Allah Azza wa Jalla berfirman;

مَّن يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُن لَّهُ نَصِيبٌ مِّنْهَا ۖ وَمَن يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُن لَّهُ كِفْلٌ مِّنْهَا

“Barangsiapa yang memberikan syafaat (pertolongan)  yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi pertolongan yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

[pullquote]bahwa semua yang terlibat dan membantu dalam transaksi riba adalah terlaknat. Mulai dari pemakan riba, pembayar ribanya,  juru tulisnya, saksi-saksinya. Pendek kata semua pekerjaan yang terkait dengan riba maka hukumnya adalah haram[/pullquote]

Kita sering berbicara tentang berbuat dzalim, tetapi kita sering mengabaikan hal ihwal membantu orang lain dalam berbuat berbuat dzalim. Ternyata memudahkan dan membantu orang dalam berbuat dzalim dosanya sama dengan orang yang berbuat dzalim itu sendiri. Misalnya tentang larangan memakan riba yang disebut dalam hadits yang bersumber dari Sahabat Jabir bin Abdillah;

للَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ ، وَشَاهِدَيْهِ ) ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah telah melaknat pemakan riba, yang membayar ribanya, juru tulisnya dan kedua saksinya. Jabir berkata, mereka semua sama (dosanya)” (HR. Muslim)

Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa semua yang terlibat dan membantu dalam transaksi riba adalah terlaknat. Mulai dari pemakan riba, pembayar ribanya,  juru tulisnya, saksi-saksinya. Pendek kata semua pekerjaan yang terkait dengan riba maka hukumnya adalah haram. Demikian fatwa para ulama.

Senada dengan hadits diatas, Ibnu Umar juga meriwayatkan dari Nabi SAW tentang haramnya khamer dan semua mata rantai pekerjaan yang terkait dengannya;

لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَلَعَنَ شَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ وَآكِلَ ثَمَنِهَا

“Allah melaknat khamer, peminumnya, penuangnya, yang mengoplos, yang minta dioploskan, penjualnya, pembelinya, pengangkutnya, yang minta diangkut, serta orang yang memakan keuntungannya.” (HR. Ahmad: 5458)

Dalam hadits diatas semua aktivitas mulai dari produsennya, konsumennya, distributornya, ekspedisinya dan semua yang mendukung  peredaran khamer (miras) dinyatakan dinyatakan sama-sama berdosa dan dilaknat oleh Allah SWT.

Menolong Orang Yang Terdzalimi

Islam tidak hanya melarang seseorang untuk menjauhi kedzaliman dan membantu perbuatan dzalim. Islam juga menganjurkan umatnya untuk menolong orang yang terdzalimi. Ibnu Mas’ud meriwayatkan dari Nabi SAW yang bersabda;

أُمِرَ بِعَبْدٍ من عِبَادِ اللهِ أَنْ يُضْرَبَ في قَبْرِهِ مِائَةَ جَلْدَةٍ، فلم يَزَلْ يَسْأَلُ وَيَدْعُو، حتى صَارَتْ جَلْدَةً وَاحِدَةً، فَجُلِدَ جَلْدَةً وَاحِدَةً، فامتلأ قَبْرُهُ عليه نَارًا، فلما ارْتَفَعَ عنه قال: عَلاَمَ جَلَدْتُمُونِي؟ قالوا: إنَّك صَلَّيْت صَلاَةً بِغَيْرِ طُهُورٍ، وَمَرَرْتَ على مَظْلُومٍ فلم تَنْصُرْه

“Seorang hamba diperintahkan untuk dicambuk di dalam kuburnya seratus kali cambukan. Ia tiada henti-hentinya bertanya dan memohon, sehingga menjadi satu cambukan, maka ia dicambuk dengan satu cambukan. Lalu penuhlah kuburnya dengan api. Ketika terangkat (cambukan) ia bertanya; kenapa kalian mencambukku? mereka (penjaga kubur) berkata; engkau sholat tanpa bersuci, dan engkau melintas di depan orang yang terdzalimi namun engkau tidak menolongnya”.

لا يَقِفَنَّ أَحَدُكُمْ مَوْقِفًا يُقْتَلُ فِيهِ رَجُلٌ ظُلْمًا ، فَإِنَّ اللَّعْنَةَ تَنْزِلُ عَلَى مَنْ حَضَرَ حِينَ لَمْ يَدْفَعُوا عَنْهُ ، وَلا يَقِفَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ مَوْقِفًا يُضْرَبُ فِيهِ أَحَدٌ ظُلْمًا ، فَإِنَّ اللَّعْنَةَ تَنْزِلُ عَلَى مَنْ حَضَرَهُ حِينَ لَمْ يَدْفَعُوا عَنْهُ

“Janganlah engkau berdiri di tempat dimana seseorang dibunuh secara dzalim, karena sesungguhnya laknat Allah turun kepada setiap yang hadir namun tidak berusaha mencegahnya. Dan jangan pula kalian berdiri di tempat dimana seseorang dipukul secara dzalim, maka sesungguhnya laknat Allah sedang turun pada saetiap yang hadir namun mereka tidak berusaha mencegahnya” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

The post Membantu Orang Lain dalam Kedzaliman appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
904
Mati Su’ul Khatimah dan Penyebabnya https://imron.me/mati-suul-khatimah-dan-penyebabnya/ Tue, 15 Dec 2020 11:21:16 +0000 https://imron.me/?p=898 Su’ul khotimah adalah suatu kondisi dimana seorang hamba meninggal dalam keadaan berpaling dari Allah Azza wa jalla, dalam keadaan melakukan maksiat kepada-Nya atau menyia-nyiakan perkara yang telah...

The post Mati Su’ul Khatimah dan Penyebabnya appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
Su’ul khotimah adalah suatu kondisi dimana seorang hamba meninggal dalam keadaan berpaling dari Allah Azza wa jalla, dalam keadaan melakukan maksiat kepada-Nya atau menyia-nyiakan perkara yang telah Allah wajibkan padanya. Semua itu  adalah pertanda su’ul khotimah yang sangat ditakutkan orang-orang yang memiliki ketaqwaan kepada Rabb-nya yang selalu memohon kepada-Nya agar dijauhkan dari kematian yang buruk seperti itu.

[pullquote]Ada seorang laki-laki yang hobi main catur. Sehari-hari siang dan malam dihabiskan untuk bermain catur. Ketika menghadapi detik-detik sakaratul maut dituntunkan padanya kalimat ‘Laa ilaaha illaalloh’. Diluar dugaan yang keluar dari mulutnya adalah kalimat ‘SKAK!’ dan dia mati dengan kalimat SKAK yang terucap dibibir”.[/pullquote]

Kadang-kadang nampak tanda-tanda su’ul khotimah pada sebagian orang yang hendak meninggal, seperti susahnya mengucap kalimat syahadat atau bahkan menolak untuk mengucapkannya meski orang-orang disekitarnya berusaha mentalkinnya, atau mengucapkan kemungkaran dan perkara-perkara yang diharamkan menjelang kematian yang seolah-olah dia tidak berlepas diri dari kemungkaran tersebut dan lain sebagianya.

Ada beberapa contoh fenomena su’ul khotimah yang bisa kita ambil sebagai i’tibar agar kita berhati-hati dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Al-Kabair menceritakan ada seorang laki-laki yang hobi main catur. Sehari-hari siang dan malam dihabiskan untuk bermain catur. Ketika menghadapi detik-detik sakaratul maut dituntunkan padanya kalimat ‘Laa ilaaha illaalloh’. Diluar dugaan yang keluar dari mulutnya adalah kalimat ‘SKAK!’ dan dia mati dengan kalimat SKAK yang terucap dibibir.

Imam Adz-Dzahabi juga menceritakan dalam kitab yang sama, bahwa seseorang terbiasa duduk-duduk bersama kawan-kawannya untuk minum khomer. Tatkala datang kepadanya sakaratul maut datang seseorang yang mentalkinnya untuk mengucapkan Laa ilaaha illalloh. Di luar dugaan yang keluar dari mulutnya adalah ‘ayo minum, tuang lagi! Lalu dia mati.

Ibnul Qoyyim al-Jauziyah menceritakan di dalam kitabnya Al-Jawaabul Kaafi tentang seorang laki-laki yang hidupnya dihabiskan tenggelam dalam musik dan nyanyian. Ketika datang sakaratul maut dituntunkan kepadanya kalimat ‘Laa ilaaha illallooh’, bukannya menirukan malah dia bersenandung dan mengakhiri hidupnya dengan nyanyian, bukan dengan kalimat tauhid.

Beliau juga menceritakan dalam kitab yang sama, bahwa ada seorang saudagar kaya yang menghadapi sakaratul maut. Ditalkinkan padanya kalimat ‘Laa ilaaha illalloh’, bukannya mengikuti kalimat yang ditalkinkan padanya malah dia berkata ‘harga murah, harga murah, ini barang bagus, ini begini, ini begitu dan seterusnya. Hingga ajalnya tiba tidak juga ia mengucapkan kalimat tauhid.

Selanjutnya Ibnul Qoyyim al-Jauziyah mengatakan, kalau seorang hamba yang dalam keadaan sadar, sehat, kuat dan sempurna inderanya saja bisa dipedaya oleh syetan untuk melakukan kemakiatan kepada Allah, dilalaikan hatinya dari mengingat Allah, dinihilkan lisannya dari dzikir kepada Allah, dan dipalingkan badannya dari melakukan ketaatan kepada Allah, bisa dibayangkan bagaimana keadaannya ketika sudah tidak berdaya sementara hati dan jiwanya nya disibukkan dengan perkara dunia ketika menghadapi naza’. Maka di saat itu syetan menghimpun segenap kekuatan, daya dan upaya untuk menghalangi hamba yang sudah tidak berdaya tersebut agar terhalang dari kesempatan yang sangat menentukan nasibnya di alam barzakh dan di alam akhirat, yaitu mengucap kalimat tauhid ‘Laa ilaaha illalloh’. Posisi syetan sangat kuat di saat itu, dan di saat yang sama hamba yang sedang menghadapi sakaratul maut tersebut dalam posisi yang selemah-lemahnya. Siapa yang menjamin seorang hamba selamat dari godaan syetan pada waktu itu? Hanya orang-orang yang beriman dan yang melazimkan (membiasakan) diri untuk beramal sholihlah yang diberi taufiq oleh Allah untuk mengucapkan kalimat tauhid. Allah berfirman;

يُثَبِّتُ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّـهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّـهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim 27)

Bagaimana bisa Allah memberi kemudahan seseorang menjalani husnul khotimah di akhir hayatnya bila hatinya selalu lalai dari mengingat Allah, selalu memperturutkan hawa nafsunya, menyia-nyiakan kewajibannya. Orang yang hatinya jauh dari Allah adalah orang yang lalai dari mengingat Allah, menjadi budak keinginan dan hawa nafsunya, lisannya kering dari dzikir, jasadnya sepi dari taat, malah sibuk dengan maksiat, lantas dari mana dia berharap husnul khotimah?.

Ada dua tingkatan su’ul khotimah; pertamahati yang ada keraguan bahkan pengingkaran kepada Allah, sehingga ia mati dalam keadaan seperti itu. Maka yang demikian akan menempatkannya dalam adzab yang kekal di dalam neraka. Kedua, lebih ringan dari itu yaitu hati yang sudah disibukkan dengan perkara dunia dan kesenangan syahwat yang diharamkan sehingga di saat sakaratul maut ia terefleksi dan menjadi gambaran di dalam hati. Seseorang  meninggal dunia dalam keadaan  sebagaimana yang biasa ia lakukan di saat hidup. Artinya, kalau ia biasa bermuamalah dengan riba, makan harta riba biasanya dia akan mati dalam keadaan melakukan muamalah riba. Ketika seseorang terbiasa mengkonsumsi miras, narkoba, cenderung kepada nyanyian, hobi menonton gambar dan film-film porno, suka berbuat dzalim kepada sesama, biasanya ia akan meninggal dalam keadaan sedang melakukan hal-hal itu, atau hati dan fikirannya disibukkan dengan kebiasaan buruk semasa hidupnya menjelang detik-detik kematiannya.

Sebab-sebab Su’ul Khotimah diantaranya;

  1. Rusaknya aqidah dan keyakinan
  2. Cenderung lebih mencintai kehidupan dunia dan menggantungkan hati padanya
  3. Keluar dari sifat istiqomah dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan berpaling dari kebaikan dan tuntunan Allah dan rasul-Nya
  4. Tenggelam dalam kemaksiatan, karena seseorang yang terbiasa dalam kemaksiatan dalam hidupnya, mencintainya dan menjadi ketergantungan padanya maka perbuatan itu akan selalu hadir dipelupuk matanmya di saat dia mengalami sakaratul maut

Su’ul Khotimah, wal ‘iyaadzu billah, tidak akan dialami oleh seseorang yang amalan dhahirnya disbukkan dengan taat kepada Allah dan amalan bathin (hati) nya selalu takut kepada Allah, jujur dan benar antara perkataan dan perbuatannya. Su’ul khotimah hanya akan menimpa orang-orang yang rusak keyakinan dan aqidahnya, rusak amalannya, berani melakukan dosa-dosa besar, gemar meremehkan dosa-dosa kecil. Celakanya, dia tidak juga berhenti dan bertaubat dari semua itu hingga kematian datang menjemputnya.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita husnul Khotimah, aamiin.

The post Mati Su’ul Khatimah dan Penyebabnya appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
898
Kematian Khusnul Khatimah dan Tanda-Tandanya https://imron.me/kematian-husnul-khotimah-dan-tanda-tandanya/ Mon, 14 Dec 2020 04:19:45 +0000 https://imron.me/?p=892 Khusnul khatimah atau akhir hidup yang baik adalah suatu kondisi dimana seorang mukmin diberi taufiq oleh Allah sebelum datangnya kematian untuk meninggalkan segala perbuatan yang mendatangkan...

The post Kematian Khusnul Khatimah dan Tanda-Tandanya appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
Khusnul khatimah atau akhir hidup yang baik adalah suatu kondisi dimana seorang mukmin diberi taufiq oleh Allah sebelum datangnya kematian untuk meninggalkan segala perbuatan yang mendatangkan murka Allah Azza wa Jalla, bersemangat melakukan ketaatan dan mengerjakan berbagai kebaikan kemudian dia menutup usianya dengan kebaikan. Sebuah hadits Anas bin Malik yang diriwayatkan Imam Ahmad yang menunjukkan tentang khusnul khotimah pada seorang hamba, bahwa Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda;

إذا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَالُوا وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan membuatnya beramal.” Para sahabat bertanya; “Bagaimana membuatnya beramal?” beliau menjawab: “Allah akan memberikan taufiq padanya untuk melaksanakan amal shalih sebelum dia meninggal.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Mati dalam keadaan khusnul khotimah memiliki tanda-tanda. Diantara tanda-tanda itu ada yang hanya diketahui oleh orang yang akan meninggal, namun ada pula tanda-tanda itu bisa diketahui oleh semua orang.

Adapun tanda yang hanya diketahui oleh seseorang yang hendak meninggal adalah adanya ‘bisyarah’ atau kabar gembira dari Allah bahwa dia telah mendapat keridhaan Allah dan berhak mendapat kemuliaan dari-Nya sebagai bentuk keutamaan yang diberikan Allah kepadanya. Allah SWT berfirman;

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّـهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Qs. Fushshilat:30).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’dy dalam tafsirnya mengatakan; Ini adalah tanda pada seorang mukmin saat menghadapi sakarotul maut. Imam Ahmad juga meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin Malik Radhiyallohu ‘anhu, bahwa nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda;

 مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ كَرَاهِيَةَ الْمَوْتِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حُضِرَ جَاءَهُ الْبَشِيرُ مِنْ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَا هُوَ صَائِرٌ إِلَيْهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ قَدْ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْفَاجِرَ أَوْ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ جَاءَهُ بِمَا هُوَ صَائِرٌ إِلَيْهِ مِنْ الشَّرِّ أَوْ مَا يَلْقَاهُ مِنْ الشَّرِّ فَكَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

“Barangsiapa senang bertemu dengan Allah, maka Allah senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa tidak senang bertemu dengan Allah, maka Allah tidak senang bertemu dengannya.” Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, kami semua tidak menyukai kematian?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukan itu yang aku maksud, namun seorang yang beriman apabila menghadapi sakaratul maut, maka seorang pemberi kabar gembira utusan Allah datang menghampirinya seraya menunjukkan tempat kembalinya, hingga tidak ada sesuatu yang lebih dia sukai kecuali bertemu dengan Allah. Lalu Allah pun suka bertemu dengannya. Adapun orang yang banyak berbuat dosa, atau orang kafir, apabila telah menghadapi sakaratul maut, maka datang seseorang dengan menunjukkan tempat kembalinya yang buruk, atau apa yang akan dijumpainya berupa keburukan. Maka itu membuatnya tidak suka bertemu Allah, hingga Allah pun tidak suka bertemu dengannya.” (HR. Ahmad)

Ada beberapa khusnul khotimah yang dirinci oleh para ulama berdasar dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Diantaranya;

1. Seseorang yang mengucap kalimat ‘Laa ilaaha illalloh‘, berdasarkan sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam;

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلامِهِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah ‘Laa ilaaha illallooh’ maka dia akan masuk sorga” (HR. Abu Dawud)

2. Meninggal dengan keringat di dahi, berdasar hadits Ibnu Buraidah bin Hashib sebagai berikut ;

عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّه
كَانَ بِخُرَاسَانَ فَعَادَ أَخًا لَهُ وَهُوَ مَرِيضٌ فَوَجَدَهُ بِالْمَوْتِ وَإِذَا هُوَ يَعْرَقُ جَبِينُهُ فَقَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَوْتُ الْمُؤْمِنِ بِعَرَقِ الْجَبِينِ

“Dari Ibnu Buraidah dari ayahnya bahwa ia berada di Khurasan, ia menjenguk saudaranya yang sakit, ia menemuinya tengah sekarat dan dahinya berkeringat, ia berkata: Allaahu Akbar, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang mu`min meninggal dunia dengan (mengeluarkan) keringat didahinya.” (HR. Ahmad

3. Mati pada malam Jum’at atau di siang hari Jum’at, berdasarkan sabda Nabi Shollallohu ‘alaihi wasallam;

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia di hari Jum’at atau pada malam Jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, disahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al-Albani)

4. Orang yang meninggal karena tho’un (penyakit wabah atau sampar). Rasulullah SAW bersabda;

الطَّاعُوْن ُشهَاَدَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

“mati karena penyakit sampar adalah syahid bagi setiap muslim” (HR. Bukhari)

5. Orang yang meninggal karena sakit perut, atau penyakit yang berhubungan dengan perut seperti; maag, kanker, usus buntu, kolera, disentri, bat ginjal dan lain sebagainya.

وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيْدٌ

“Barangsiapa yang mati karena sakit perut maka dia adalah syahid” (HR. Muslim)

6. Orang yang meninggal karena tenggelam, karena kejatuhan bangunan atau tebing. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda;

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Orang yang mati syahid itu ada lima; orang yang meninggal karena penyakit tha’un, sakit perut, tenggelam, orang yang kejatuhan (bangunan  atau tebing) dan meninggal di jalan Allah.” (HR. Bukhari)

7. Orang yang meninggal dalam suatu urusan di jalan Allah (Sabilillah). Seperti seseorang yang meninggal dalam perjalanan dakwah atau meninggal sewaktu mengajar ilmu agama atau ketika melakukan amal kebajikan kepada sesama yang diniatkan ikhlas karena Allah, sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Bukhari diatas. Fisabilillah adalah berjuang di jalan Allah dalam pengertian luas sesuai dengan yang ditetapkan oleh para ulama.

8. Seorang wanita yang meninggal karena melahirkan anaknya. Rasulullah SAW bersabda;

قَتْلُ الْمُسْلِمِ شَهَادَةٌ وَالطَّاعُونُ شَهَادَةٌ وَالْبَطْنُ وَالْغَرَقُ وَالْمَرْأَةُ يَقْتُلُهَا وَلَدُهَا جَمْعَاءَ

“Terbunuhnya seorang muslim terhitung syahid, kematian karena wabah thaun terhitung syahid, kematian karena sakit perut terhitung syahid, kematian karena tenggelam terhitung syahid dan seorang wanita yang mati karena melahirkan anaknya terhitung syahid.” (HR. Ahmad)

9. Seseorang yang terbunuh karena mempertahankan hartanya atau kehormatannya. Abu Hurairah RA meriwayatkan;

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ  ” أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِي قَالَ : فَلَا تُعْطِهِ مَالَكَ  قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِي  قَالَ : قَاتِلْهُ  قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِي قَالَ : فَأَنْتَ شَهِيدٌ  قَالَ : أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ  قَالَ : هُوَ فِي النَّارِ “

Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam dan bertanya; “Wahai Rasulullah, bagaimana kalau ada seseorang yang hendak mengambil hartaku?” Beliau bersabda, “Jangan engkau berikan hartamu!” Bagaimana kalau ia melawanku?” Beliau bersabda; “Lawanlah dia!”, “Bagaimana kalau dia membunuhku?” Beliau bersabda; “Engkau syahid”, “Bagaimana kalau aku yang membunuhnya?” Beliau bersabda; “Dia di neraka!” (HR. Muslim)

 مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ  وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

“Barangsiapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya maka dia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena memeprtahankan agamanya maka dia syahid, barangsiapa yang terbunuh karena mempertahankan nyawanya maka dia syahid dan barangsiapa yang terbunuh karena memeprtahankan keluarganya maka dia syahid” (HR. Tirmidzi)

10. Orang yang meninggal dalam keadaan mengerjakan kebaikan atau amal sholeh. Seperti seseorang yang meninggal dalam keadaan sholat, melaksanakan ibadah haji, bersilaturahmi dan sebagainya. Rasulullah SAW bersabda;

مَنْ قَالَ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ابتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ ، خُتِمَ لَهُ بهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بهَا ، دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ تَصَدَّقَ بصَدَقَةٍ ابتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بهَا ، دَخَلَ الْجَنَّةَ “

“Barangsiapa yang meninggal ketika mengucap ‘Laa ilaaha illalloh’ ikhlas karena maka dia masuk sorga, barangsiapa yang berpuasa pada suatu hari kemudian meninggal maka dia masuk sorga, dan barangsiapa yang bersedekah ikhlas karena Allah kemudian dia meninggal maka dia masuk sorga” (HR. Ahmad)

The post Kematian Khusnul Khatimah dan Tanda-Tandanya appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
892
Mati Syahid, Kematian dengan Cita Rasa Tertinggi https://imron.me/mati-syahid-kematian-dengan-cita-rasa-tertinggi/ Tue, 08 Dec 2020 12:33:13 +0000 https://imron.me/?p=886 Kematian di medan jihad sebagai syahid adalah kematian terbaik dengan cita rasa tertinggi yang diidam-idamkan oleh setiap mukmin yang memiliki keimanan yang kokoh dan ketaqwaan...

The post Mati Syahid, Kematian dengan Cita Rasa Tertinggi appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
Kematian di medan jihad sebagai syahid adalah kematian terbaik dengan cita rasa tertinggi yang diidam-idamkan oleh setiap mukmin yang memiliki keimanan yang kokoh dan ketaqwaan yang tinggi kepada Allah Azza wa Jalla. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang menerangkan keutamaan gugur di jalan Allah sebagai syuhada’. Dalam Qs. Ali Imron ayat 169 Allah menerangkan;

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّـهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.” (Qs. Ali Imron : 169)

Tentang ayat tersebut, Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Masyruq Radliyallohu ‘anhu, ia berkata, kami bertanya kepada Abdullah bin Murrah tentang ayat ini (Qs. Ali Imron ayat 169) lalu beliau berkata; kami pun pernah menanyakan hal ini kepada Rasulullah SAW dan beliau bersabda;

أَرْوَاحُهُمْ فِي جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَسْرَحُ مِنْ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ ثُمَّ تَأْوِي إِلَى تِلْكَ الْقَنَادِيلِ فَاطَّلَعَ إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ اطِّلَاعَةً فَقَالَ هَلْ تَشْتَهُونَ شَيْئًا قَالُوا أَيَّ شَيْءٍ نَشْتَهِي وَنَحْنُ نَسْرَحُ مِنْ الْجَنَّةِ حَيْثُ شِئْنَا فَفَعَلَ ذَلِكَ بِهِمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَلَمَّا رَأَوْا أَنَّهُمْ لَنْ يُتْرَكُوا مِنْ أَنْ يُسْأَلُوا قَالُوا يَا رَبِّ نُرِيدُ أَنْ تَرُدَّ أَرْوَاحَنَا فِي أَجْسَادِنَا حَتَّى نُقْتَلَ فِي سَبِيلِكَ مَرَّةً أُخْرَى فَلَمَّا رَأَى أَنْ لَيْسَ لَهُمْ حَاجَةٌ تُرِكُوا

“Ruh mereka berada di dalam rongga burung hijau yang mempunyai banyak pelita yang bergantungan di ‘Arsy, ia dapat keluar masuk surga sesuka hati kemudian beristirahat lagi di pelita-pelita itu, kemudian Rabb mereka menengok mereka seraya berkata: ‘Apakah kalian menginginkan sesuatu? ‘ Mereka menjawab, ‘Apa lagi yang kami inginkan kalau kami sudah dapat keluar masuk ke surga sesuka hati kami? ‘ Lalu Allah terus mengulangi pertanyaan itu hingga tiga kali. Ketika mereka melihat kalau mereka tidak akan ditinggalkan sebelum menjawab pertanyaan itu, maka merekapun menjawab, ‘Duhai Rabb, kami menginginkan ruh kami dikembalikan lagi ke jasad kami hingga kami dapat berperang lagi di jalan-Mu untuk kesekian kalinya.’ Ketika Allah melihat kalau mereka tidak lagi membutuhkan sesuatu, akhirnya mereka ditinggal pergi.” (HR. Muslim: 3500)

Disamping keterangan dalam hadits diatas, masih banyak keutamaan yang bakal didapat oleh orang-orang yang mati Syahid. Sebuah hadits dari Sahabat Miqdam bin Ma’di Karib menceritakan bahwa Rasulullah Shallallohu ‘alaih wasallam pernah bersabda;

لِلشَّهِيدِ عِنْدَ اللَّهِ سِتُّ خِصَالٍ يَغْفِرُ لَهُ فِي أَوَّلِ دُفْعَةٍ مِنْ دَمِهِ وَيُرَى مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَيَأْمَنُ مِنْ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ وَيُحَلَّى حُلَّةَ الْإِيمَانِ وَيُزَوَّجُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ وَيُشَفَّعُ فِي سَبْعِينَ إِنْسَانًا مِنْ أَقَارِبِهِ

“Orang yang mati syahid mendapatkan enam hal di sisi Allah:

  1. Diampuni dosa-dosanya sejak pertama kali darahnya mengalir,
  2. diperlihatkan kedudukannya di surga,
  3. diselamatkan dari siksa kubur,
  4. dibebaskan dari ketakutan yang besar,
  5. dihiasi dengan perhiasan iman,
  6. dinikahkan dengan bidadari dan
  7. dapat memberikan syafaat kepada tujuh puluh orang kerabatnya.” (Qs. Ibnu Majah)

Karena berbagai keistimewaan dan keutamaan inilah, para sahabat Nabi Shallallohu ‘alaih wasallam berlomba-lomba untuk meraih syahadah, mati sebagai syahid dalam di jalan Allah. Dalam peristiwa perang Badar, Rasulullah Shallallohu ‘alaih wasallam memobilisasi para sahabatnya untuk berperang melawan tentara musyrikin Mekkah yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb yang waktu itu masih berada di dalam kekafiran. Rasulullah Shallallohu ‘alaih wasallam bersabda, “berdirilah kalian menuju sorga yang luasnya seluas langit dan bumi!” Lalu seorang sahabat yang bernama Umair Ibnu Hammam Al-Anshori berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sorga yang luasnya seluas langit dan bumi?”  Rasulullah menjawab, “ benar!”  Umair Ibnu Hammam Al-Anshori berkata :  بَخٍ بَخٍ (wow.. wow.. – ungkapan ta’ajub dan kagum dalam bahasa Arab). Rasulullah Shallallohu ‘alaih wasallam bertanya; “Apa yang menyebabkan engkau berkata begitu?”

وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِلَّا رَجَاءَ أَنْ أَكُونَ مِنْ أَهْلِهَا

“Wahai Rasulullah, demi Allah aku hanya berharap bahwa aku termasuk dari penghuninya” Lalu ia pun mengeluarkan beberapa butir korma dari kantongnya seraya memakannya, kemudian ia berkata;

لَئِنْ أَنَا حَيِيتُ حَتَّى آكُلَ تَمَرَاتِي هَذِهِ إِنَّهَا لَحَيَاةٌ طَوِيلَةٌ

“Jika aku habiskan korma-korma ini, ah… sungguh terlalu lama hidupku” Lalu ia pun melempar korma yang masih dia bawa, kemudian ia maju ke medan perang menerjang musuh hingga ia gugur sebagai syahid terbunuh dalam perang badar.

Lihatlah Khalid bin Walid, tidak terkira bilangan peperangan yang beliau ikuti untuk berjihad di jalan Allah. Ia sangat merindukan kematian di jalan Allah sebagai syahid, namun Allah malah menakdirkan beliau meninggal diatas tempat tidurnya. Perhatikanlah, menjelang detik-detik akhir wafatnya beliau berkata;

لقد حضرتُ كذا وكذا زحفًا وما في جسدي موضع شبر إلَّا وفيه ضربة بسيف أو رمية بسهم أو طعنة برمح وهأنذا أموت على فراشي حتف أنفي كما يموت البعير  فلا نامت أعين الجبناء

“Aku berjuang dalam banyak pertempuran (mencari mati syahid), tidak ada tempat di tubuhku melainkan memiliki bekas luka sabetan pedang, atau tusukan panah dan belati. Namun inilah aku, mati di tempat tidur seperti unta tua mati. Semoga mata para pengecut tidak pernah tidur.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah, Ibnu Katsir VII/129)

Akhirnya beliau meninggal diatas ranjangnya dengan sekitar tujuh puluh luka bekas sabetan berbagai senjata tajam yang terukir di sekujur tubuh, seolah menjadi saksi bahwa beliau adalah seorang mujahid yang pemberani dan tangguh di jalan Allah Azza wa Jalla.

The post Mati Syahid, Kematian dengan Cita Rasa Tertinggi appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
886
Suamimu, Surgamu dan Nerakamu! https://imron.me/suamimu-surgamu-dan-nerakamu/ Sat, 05 Dec 2020 09:48:42 +0000 https://imron.me/?p=874 Kebahagiaan hidup berumah tangga adalah anugerah Allah yang diberikan kepada hamba-Nya setelah nikmat Islam dan iman. Cinta dan kasih sayang serta ketentraman hidup berumahtangga adalah...

The post Suamimu, Surgamu dan Nerakamu! appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
Kebahagiaan hidup berumah tangga adalah anugerah Allah yang diberikan kepada hamba-Nya setelah nikmat Islam dan iman. Cinta dan kasih sayang serta ketentraman hidup berumahtangga adalah dambaan idaman bagi setiap pasangan suami istri.

Diantara pilar terpenting bagi kebahagiaan hidup berumah tangga adalah seorang istri. Yaitu bila ia sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam;

ِإِنَّمَا الدُّنْياَ مَتَاعٌ، وَلَيْسَ مِنْ مَتَاعِ الدُّنْيَا شَيْءٌ أَفْضَلُ مِنَ الْمَرْأَةِ الصَّالِحَة

“Hanyalah dunia ini semata kesenangan. Dan tidak ada kesenangan dunia yang lebih utama daripada seorang istri yang sholihah” (HR. Ibnu Majah)

Dalam suatu riwayat, Nabi Dawud alaihissalam pernah berkata; seorang istri yang jelek akhlak dan agamanya,  maka bagi suaminya ia bagaikan beban berat yang dipikul oleh seorang lelaki tua renta. Sedangkan seorang istri yang sholihah ia ibarat mahkota yang terbuat dari emas yang menyenangkan bila dipandang mata.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad, diceritakan oleh sahabat Hushain bin Mihshan bahwa bibinya pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk suatu keperluan. Setelah urusannya selesai, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bertanya kepadanya: “Apakah kamu mempunyai suami?” ia menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi: “Bagaimanakah sikapmu terhadapnya?” ia menjawab, “Saya tidak pernah mengabaikannya, kecuali terhadap sesuatu yang memang aku tidak sanggup.” Beliau bersabda:

فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ

“Perhatikanlah posisimu terhadapnya. Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu terdapat pada (sikapmu terhadap) suamimu.” (HR. Ahmad: 18233

Dalam hadits yang mulia diatas ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sangat agungnya kedudukan suami dihadapan istrinya. Bahwa suami adalah sorga atau neraka istrinya. Artinya bila seorang istri berbakti kepada suaminya maka sorga Allah akan selalu menantinya. Sebaliknya bila seorang istri durhaka kepada suaminya, maka nerakalah ancamannya. Maka sangat mudah bagi seorang wanita untuk mendapat surga dan juga sangat mudah pula bagi seorang wanita untuk mendapat neraka.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, Rasulullah SAW bersabda;

لإِذَا صَلَّتْ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Apabila seorang istri melaksanakan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan ta’at kepada suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya; ‘Masuklah kamu ke dalam syurga dari pintu mana saja yang kamu inginkan’.”

Begitu agungnya hak seorang suami yang ada pada istrinya, sehingga Rasulullah SAW bersabda;

لَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا وَلَوْ أَنَّ رَجُلًا أَمَرَ امْرَأَتَهُ أَنْ تَنْقُلَ مِنْ جَبَلٍ أَحْمَرَ إِلَى جَبَلٍ أَسْوَدَ وَمِنْ جَبَلٍ أَسْوَدَ إِلَى جَبَلٍ أَحْمَرَ لَكَانَ نَوْلُهَا أَنْ تَفْعَلَ

“Sekiranya aku boleh memerintahkan seseorang sujud kepada orang lain, maka akan aku perintahkan seorang isteri sujud kepada suaminya. Sekiranya seorang suami memerintahkan isterinya untuk pindah dari gunung ahmar menuju gunjung aswad, atau dari gunung aswad menuju gunung ahmar, maka ia wajib untuk melakukannya.” (HR. Ibnu majah)

Hak-hak  istri kepada suaminya diantaranya adalah mentaatinya, menjaga dan merawat rumah dan anak-anaknya, menjaga kehormatan dan harta benda suaminya, tidak mengizinkan memasuki rumah orang-orang yang tidak dikehendaki oleh suaminya, tidak keluar rumah kecuai dengan seizinnya, berpenampilan menarik dan berdandan yang cantik di hadapan suami, berusaha mencari keridhaan suami  yang itu merupakan ciri-ciri wanita yang akan menjadi penghuni sorga yang disabdakan oleh Rasulullah SAW ;

أَلَاْ أُخْبِرُكُم بِرِجَالِكُم فِي الجَنَّةِ ؟! النَّبِي فِي الجَنَّةِ ، وَالصِّدِّيقُ فِي الجَنَّةِ ، وَالشَّهِيدُ فِي الجَنَّةِ ، وَالمَوْلُودُ فِي الجَنَّةِ ، وَالرَّجُلُ يَزُورُ أَخَاهُ فِي نَاحِيَةِ المِصْرِ – لَاْ يَزُورُهُ إِلَّا لِلَّهِ – فِي الجَنَّةِ .أَلَاْ أُخبِرُكُم بِنِسَائِكُم فِي الجَنَّةِ ؟! كُلُّ وَدُودٍ وَلُودٍ ، إِذَا غَضِبَت أَو أُسِيءَ إِلَيهَا أَو غَضِبَ زَوجُهَا ، قَالَت : هَذِه يَدِي فِي يَدِكَ ، لَاْ أَكْتَحِلُ بِغُمضٍ َحتَّى تَرضَى

“Maukah aku beritahukan kepada kalian laki-laki penghuni sorga? Para Nabi di sorga, orang-orang yang jujur di sorga, orang yang mati syahid di sorga, anak yang terlahir (mati) di sorga, seorang lelaki yang mengunjungi saudaranya di belahan kota, yang dia mengunjunginya karena Allah, di sorga. Dan maukah aku tunjukkan kepada kalian wanita ahli sorga? Yaitu setiap istri yang penuh cinta kepada suami serta penyayang kepada anaknya, yang ketika suaminya marah kepadanya ia berkata, ‘inilah tanganku berada ditanganmu, aku tidak bisa tidur memejamkan mata sehingga engkau ridho kepadaku” (HR. Nasai)

Bandingkan dengan laki-laki dan para suami, yang mana mereka harus beramal dengan gigih untuk meraih sorga. Ia harus menjadi salah seorang shiddiqin(orang yang selalu berbuat jujur), mereka harus salah seorang sholihiin (orang yang sholih), dituntut untuk menjadi syuhadaa’ (orang yang mati syahid) bila ingin mendapat kemudahan untuk masuk sorga. Dan ia harus bersikap adil terhadap istrinya, dan itu tidaklah mudah.

Maka bagi seorang istri, sikapnya terhadap suami menentukan posisinya di sorga atau di neraka. Tidak hanya di akhirat, di dunia kalau dia taat dan berbakti kepada suami dia akan mendapat kebahagiaan dan ketentraman hidup di dunia dan rumah tangganya. Namun kalau dia mendurhakai suami, hari-harinya akan berisi laknat dari Allah azza wa jalla.

The post Suamimu, Surgamu dan Nerakamu! appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
874
Dusta Kepada Allah dan Rasul-Nya, Dosa Besar Yang Tidak Terkira, https://imron.me/dusta-kepada-allah-dan-rasul-nya-dosa-besar-yang-tidak-terkira/ Thu, 03 Dec 2020 14:32:52 +0000 https://imron.me/?p=861 Tidak ada perbuatan yang lebih cepat mengantarkan manusia kepada dosa selain perbuatan dusta. Sebagaimana telah dijelaskan dalam kajian sebelumnya, dusta dengan segala bentuknya merupakan akar dari...

The post Dusta Kepada Allah dan Rasul-Nya, Dosa Besar Yang Tidak Terkira, appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
Tidak ada perbuatan yang lebih cepat mengantarkan manusia kepada dosa selain perbuatan dusta. Sebagaimana telah dijelaskan dalam kajian sebelumnya, dusta dengan segala bentuknya merupakan akar dari segala keburukan. Betapa banyak perbuatan-perbuatan dosa yang muncul dari sifat dusta. Sebaliknya, betapa banyak kebaikan-kebaikan yang tumbuh dari sikap jujur dalam perbuatan. Maka benarlah yang dikatakan baginda Nabi SAW;

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ , وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ صِدِّيقًا . وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan kepada sorga. Dan sesungguhnya seseorang senantiasa jujur sehingga ia ditulis oleh Allah sebagai seorang yang jujur. Dan sesungguhnya kedustaan dapat menunjukkan kepada perbuatan dosa dan perbuatan dosa dapat memasukan ke dalam neraka, seseorang senantiasa berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dusta Kepada Allah

Ternyata kedustaan yang dilakukan manusia tidak terbatas kepada sesama manusia saja. Allah pun tidak luput dari kedustaannya.  Inilah seburuk-buruk kedustaan yang diperbuat manusia. “Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim.” Begitulah bunyi Surat Ali Imron ayat 94 menjelaskan dhalimnya kedustaan atas nama Tuhan.

Kedustaan kepada Allah adalah sebesar-besar kedustaan. Kedustaan kepada Allah ada kalanya berupa;

1. syirik

Yaitu menyekutukan Allah dengan makhluknya dalam hal peribadatan maupun dalam sifat-sifat ketuhanan.

“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat dosa. Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan…” (Qs. Yunus : 17-18)

Dalam ayat diatas Allah menyebut kedustaan terhadap Allah berupa syirik sebagai kedhaliman yang paling besar diatas perbuatan-perbuatan dhalim lainnya. Dan memang syirik kepada Allah disebut-sebut sebagai kedhaliman terbesar dan selalu menempati rangking pertama dalam peringkat dosa-dosa besar yang telah disebut Allah dan rasul-Nya. Apa pun motifnya, dusta kepada Allah akan membawa kebinasaan bagi pelakunya. Oleh karena itu Allah berfirman;

قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّـهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung”.(Qs. Yunus 69)

2. Menafsirkan Firman Allah Berdasar Hawa Nafsunya

Menafsirkan Al-Qur’an memerlukan perangkat  ilmu tafsir yang memadai. Untuk mengetahui hakikat firman Allah seseorang harus mempunyai pengetahuan dalam ilmu bahasa Arab dengan segala macam cabang-cabangnya, mengerti ilmu fiqih, ushul fiqih, ilmu hadits dan sebagainya. Semua itu mutlak diperlukan agar seseorang tidak terjebak dalam penafsiran ayat Allah dengan hawa nafsunya. Padahal menafsirkan firman Allah hanya berdasar prasangka dan hawa nafsu diancam oleh Rasulullah SAW dengan ancaman yang keras, yaitu adzab neraka. Rasulullah SAW bersabda;

مَنْ قَالَ فِي القُرآنِ بِرأيِهِ ، فَلْيَتَبوأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang berkata tentang Al-Qur’an semata-mata dengan akalnya, maka hendaknya ia bersiap-siap menempati tempat duduknya di neraka” (HR. Nasa’i)

3. Mengaku Mendapat Wahyu

Kedustaan kepada Allah juga bisa dalam bentuk mengaku-ngaku mendapat wahyu dari Allah. Sebagai seorang muslim kita wajib mengimani bahwa sudah tidak ada lagi nabi dan rasul sepeninggal Rasulullah SAW. Maka bila ada orang yang mengaku-ngaku menjadi nabi karena telah mendapat wahyu dari Allah, maka sudah bisa dipastikan bahwa orang itu adalah pendusta. Allah berfirman dalam Qs. Al-An’am ayat 93

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah…”

Kemunculan orang-orang yang mengaku mendapat wahyu dan mengaku sebagai nabi sebenarnya bukan suatu hal yang aneh, mengingat Nabi kiat Muhammad SAW telah mengkabarkannya 14 abad yang silam;

سَيَكُوْنُ فِي أُمَّتِي كَذَّابُوْنَ ثَلَاثُوْنَ ، كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ ، وَ أَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ ، لَا نَبِيَّ بَعْدِي

“Akan muncul dikalangan umatku tiga puluh pendusta, semua mengaku bahwa ia adalah nabi. Padahal aku adalah penutup para nabi dan tidak ada nabi sepeninggalku” (HR. Ahmad)

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبًا مِنْ ثلاثين كلُّهم يزعم أنَّه رسول الله

“Tidak akan terjadi kiamat sehingga akan dibangkitkan para dajjal pendusta yang berjumlah sekitar tiga puluh orang semuanya mengaku bahwa mereka adalah rasul Allah” (HR. Bukhori)

Dusta Kepada Rasulullah

Kedustaan kepada Rasulullah adalah kedustaan terbesar nomer dua setelah kedustaan kepada Allah. Kedustaan kepada Rasulullah adalah mengatakan sesuatu yang diatasnamakan Rasulullah padahal Rasulullah tidak pernah mengatakannya. Kedustaan kepada Rasulullah mempunyai konsekwensi yang berat yang sama kedustaan kepada Allah, yaitu diancam dengan adzab neraka. Rasulullah telah menyatakan;

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang berdusta atasnamaku, maka hendaknya ia memeprsiapkan tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhori)

Maka hendaknya para da’i berhati-hati dalam menyampaikan suatu hadits. Jangan sampai ia menyampaikan hadits-hadits maudhu’ atau hadits palsu kepada umat hanya agar umat percaya dengan apa yang disampaikan, atau sekedar untuk menguatkan pendapatnya yang belum tentu benar. Karena meriwayatkan hadits-hadits palsu termasuk kedustaan kepada Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda;

مَنْ رَوَى عَنِّي حَدِيثًا ، وَهُوَ يَرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَذَّابِينَ

“Barangsiapa yang meriwayatkan suatu hadits dariku, padahal dia mengetahui bahwa hadits itu dusta, maka ia termasuk salah satu diantara pendusta” (HR. Bukhari & Muslim)

The post Dusta Kepada Allah dan Rasul-Nya, Dosa Besar Yang Tidak Terkira, appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
861
Me-Recharge Iman dengan Menghadiri Majelis Ta’lim https://imron.me/me-recharge-iman/ Tue, 01 Dec 2020 22:32:12 +0000 https://imron.me/?p=813 Seringkali kita merasakan ada kenikmatan spiritual tersendiri ketika berada di tengah-tengah majelis ta’lim atau majelis ilmu. Hati yang semula terasa gersang tiba-tiba menjadi sejuk setelah...

The post Me-Recharge Iman dengan Menghadiri Majelis Ta’lim appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
Seringkali kita merasakan ada kenikmatan spiritual tersendiri ketika berada di tengah-tengah majelis ta’lim atau majelis ilmu. Hati yang semula terasa gersang tiba-tiba menjadi sejuk setelah mendapat siraman rohani dan taushiyah dari para asatidz atau para ulama. Kita merasakan fenomena eskalasi keimanan manakala dibahas hal-hal yang mengingatkan kepada Allah dan hari akhir. Perasaan seolah-olah dekat dengan Allah dan hari akhirat. Suatu fenomena yang juga dirasakan oleh para sahabat ketika mereka berada disisi Nabi SAW  untuk mendengar nasehat dan tausiyah dari beliau. Hal ini pernah ditanyakan oleh para sahabat kepada beliau;

يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَنَا إِذَا كُنَّا عِنْدَكَ رَقَّتْ قُلُوبُنَا وَزَهِدْنَا فِي الدُّنْيَا وَكُنَّا مِنْ أَهْلِ الْآخِرَةِ فَإِذَا خَرَجْنَا مِنْ عِنْدِكَ فَآنَسْنَا أَهَالِينَا وَشَمَمْنَا أَوْلَادَنَا أَنْكَرْنَا أَنْفُسَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّكُمْ تَكُونُونَ إِذَا خَرَجْتُمْ مِنْ عِنْدِي كُنْتُمْ عَلَى حَالِكُمْ ذَلِكَ لَزَارَتْكُمْ الْمَلَائِكَةُ فِي بُيُوتِكُمْ

Wahai Rasulullah, kenapa kami bila berada di dekat baginda, hati kami melunak, kami zuhud di dunia dan kami termasuk ahli akhirat, tapi bila kami bergegas meninggalkan baginda lalu kami bergaul dengan keluargaku, mencium anak-anak kami, kami mengingkari diri kami sendiri (maksudnya agamis seperti semula). Rasulullah  bersabda: “Andai kalian bila pergi meninggalkanku berada dalam kondisi kalian seperti itu, niscaya para malaikat mengunjungi kalian di rumah-rumah kalian.” (HR. Tirmidzi)

Adanya kedamaian yang ada dalam majelis ilmu dikarenakan dua hal;

Pertama, malaikat menaungkan sayap-sayapnya dalam majelis taklim atau majelis ilmu. Kehadiran malaikat tentu membawa keberkahan tersendiri. Sebagaimana Sabda Nabi Shallalllohu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الْمَلائِكَةَ تَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَطْلُبًًُ

“Sesungguhnya malaikat-malaikat menaungkan sayapnya untuk para pencari ilmu karena senang dengan apa yang dia cari” (HR. Ahmad)

Kedua, Dalam hadits diatas ketakwaan dan kesalehan yang memancar dari pribadi Rasulullah menjadi sebab turunnya rahmat dan kedamaian. Karena aura kebaikan orang-orang sholeh bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada di dekatnya. Demikian pula berkumpulnya orang-orang sholeh dalam majelis ilmu merupakan penyebab turunnya rahmat Allah kepada mereka. Seseorang yang bersahabat dengan teman-teman yang baik agamanya maka akan semakin banyak kebaikan yang akan didapatkannya.

Mencari teman yang baik agamanya adalah penting. Karena ketika seseorang dilanda futur alias malas karena kondisi hati melemah maka akan ada yang menasehatinya, mengingatkan dan kembali membawa kita untuk semangat mencari ilmu. Keberadaan teman sangat berpengaruh bagi agama seseorang. Oleh karena itu Rasulullah bersabda;

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ لَا يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang shalih dan orang yang bergaul dengan orang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi, Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak wanginya atau sekedar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan dari tukang tempa besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap”. (HR. Bukhari)

Ibarat gadget yang perlu dicharge ketika beterai habis, hadir di majelis ilmu atau majelis ta’lim tidak ubahnya seperti mengisi daya (recharge) keimanan dan menyuburkan hati agar senantiasa mengingat Allah dan negeri akhirat dan membuat kita zuhud terhadap dunia.

The post Me-Recharge Iman dengan Menghadiri Majelis Ta’lim appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
813
Mendulang Manfaat dengan Bersyukur https://imron.me/mendulang-manfaat-dengan-bersyukur/ Fri, 27 Nov 2020 15:31:32 +0000 https://imron.me/?p=809 Aku merasa orang termiskin di dunia Yang penuh derita bermandikan air mata Begitulah lirik lagu dangdut karya Hamdan ATT yang pernah populer di awal tahun...

The post Mendulang Manfaat dengan Bersyukur appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
Aku merasa orang termiskin di dunia

Yang penuh derita bermandikan air mata

Begitulah lirik lagu dangdut karya Hamdan ATT yang pernah populer di awal tahun 2000an. Lagu yang biasa diputar di warung-warung kopi dan kedai kaki lima sambil nyeruput kopi , he..he..he.. Tapi saya tidak akan membahas tentang lagu apalagi dangdut  dan sejenisnya. Saya akan membahas dahsyatnya bersyukur.

Seandainya apa yang dikatakan Hamdan ATT diatas benar-benar menimpa kita, sebagai orang termiskin di dunia, kita sepatutnya bertanya pada diri kita sendiri benarkah kita adalah orang termiskin di dunia, yang penuh derita dan bermandikan air mata?

Ternyata seberapa pun menyedihkannya keadaan kita, kalau kita perhatikan masih banyak orang-orang yang kurang beruntung dibanding kita. Orang cacat, pengemis, anak jalanan dan orang-orang yang kelaparan adalah sebagian dari mereka yang hidupnya kurang beruntung di banding kita. Kita merasa menjadi orang yang paling sengsara karena yang kita jadikan pembanding adalah adalah orang-orang  yang jauh lebih beruntung menurut kita. Lebih makmur,  lebih kaya, yang rumahnya besar, mobilnya mewah dan sebagainya.

Ketika yang kita jadikan pembanding adalah orang-orang yang secara duniawi lebih diatas kita maka yang muncul di hati adalah selalu merasa kurang dengan pemberian Allah kepada kita, kita merasa sebagai orang yang paling miskin di lingkungan kita, atau seolah-olah ketidakberuntungan selalu menyelimuti hidup kita. Sebaliknya kalau yang kita jadikan pembanding adalah orang-orang yang secara duniawi lebih rendah daripada kita maka akan akan menumbuhkan sifat qona’ah di dalam hati dan merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah berupa rezeki dan akhirnya menumbuhkan rasa syukur di dalam hati. Orang yang berhati qona’ah hidupnya akan tenang dan bahagia. Rasa bersyukur akan membuat hati merasa tenang dan tenteram dan tidak gelisah dengan berbagai keinginan keduniaan.

Dalam hadits yang diiwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW memberi wasiat yang sangat berharga kepada umatnya;

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ ‏ ‏أَجْدَرُ ‏ ‏أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّه

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah darimu (dalam urusan duniawi) dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih patut agar kalian tidak menyepelekan nikmat Allah”

Inilah tuntunan Rasulullah SAW yang paling ampuh untuk mengikis keserakahan di dalam hati dan metode  yang paling jitu untuk menumbuhkan rasa syukur terhadap nikmat Allah. Ketika ia melihat orang yang diuji oleh Allah dengan sakit ia bersyukur kepada Allah diberi sehat wal afiat. Disaat dia melihat orang yang tidak mempunyai tempat tinggal ia bersyukur kepada Allah masih diberi nikmat berupa rumah yang bisa ditinggali meskipun ngontrak. Saat dia melihat orang yang tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan dia bersyukur kepada Allah masih diberi rezeki yang bisa dimakan pada hari itu. Begitu seterusnya.

Tapi banyak juga macam orang yang suka memandang rumput tetangga lebih hijau dari rumputnya. Penyakit iri dan dengki pun bertokol di dalam hatinya. Tetangga membangun rumah tiba-tiba hatinya dongkol. Ketika tetangga beli motor batinnya tersiksa. Beberapa saat kemudian sang tetangga beli mobil, penyakit jantungnya kumat. Waktu tetangga beli helikopter hidupnya kiamat. Orang semacam ini tidak akan pernah mengalami rasa syukur di dalam hidupnya. Orang yang ada penyakit iri dan dengki tidak akan pernah merasa bahagia meskipun dia memiliki segala-galanya.

Dalam artikelnya yang berjudul Why Gratitude is Good? yang dimuat di  www.dailygood.org  Dr. Robert Emmon yang telah melakukan penelitian terhadap lebih dari seribu orang yang berusia antara delapan hingga delapan puluh tahun tentang gratitude (bersyukur) mengatakan bahwa orang yang bersyukur mempunyai banyak manfaat, baik secara fisik, psikologis maupun sosial.

Secara fisik orang yang bersyukur memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat, jarang terkena sakit kepala dan nyeri, menurunkan tekanan darah, kesehatan lebih terjaga, tidur lebih berkwalitas dan merasa segar ketika bangun tidur.

Secara psikis orang yang bersyukur mempunyai tingkat emosi yang positif, lebih berhati-hati, hari-hari lebih hidup, lebih ceria dan menyenangkan, lebih optimis dan berbahagia.

Dan secara sosial orang yang pandai bersyukur akan mudah menolong, bermurah hati, penuh kasih kepada sesama, mudah memaafkan dan tidak pernah merasa kesepian.

Namun yang jelas jauh sebelum Robert Emmons melakukan penelitiannya, Allah SWT telah memberi jaminan kebaikan dan kebahagiaan bagi mereka yang mau bersyukur;

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Qs. Ibrahim: 7)

 

The post Mendulang Manfaat dengan Bersyukur appeared first on Catatan Cak Imron.

]]>
809