Jujur itu Ketenangan, Dusta itu Keraguan

jangan berdusta

Berita tentang kasus penggelapan, penipuan, korupsi dan sebagainya kerap menghiasi berbagai media massa. Motifnya pun beragam mulai dari keinginan untuk memperkaya diri, untuk bersenang-senang atau dengan alasan karena terbelit hutang. Yang jelas kasus-kasus tersebut bermula dari tidak adanya kejujuran dalam perilaku maupun dalam tutur kata. Ketika sifat  serakah dan tidak amanah sudah menguasai dirinya, maka ia menjadi manusia pendusta.  Dusta adalah akar segala perbuatan dosa dan permulaan dari berbagai kejelekan yang diperbuat umat manusia. Tidak ada perkara yang lebih cepat mengantarkan manusia kepada berbagai keburukan selain dusta.  Rasulullah SAW bersabda;

إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَالْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

Jauhilah berdusta karena kedustaan dapat menunjukkan kepada perbuatan dosa dan perbuatan dosa dapat memasukan ke dalam neraka, seseorang senantiasa berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika berdusta, sebenarnya terjadi pertentangan batin dalam diri seseorang antara harus berkata jujur atau berkata dusta. Itu karena fitrah dan hati nurani menghendaki seseorang untuk berkata benar dan jujur. Maka kedustaan atau kedustaan akan menjadi beban berat bagi orang yang melakukannya. Hidupnya tidak akan dengan pernah tenteram dengan terus menyimpan kedustaan dan kebohongan, lebih-lebih bila ada pihak luar yang berusaha untuk mengungkap kedustaan yang dia lakukan. Maka untuk menutupi kedustaan biasanya seseorang akan membuat kedustaan yang baru. Demikianlah kejelekan akan selalu membawa kejelekan yang lain, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah;

من عقوبة السيئة السيئة بعدها ، ومن ثواب الحسنة الحسنة بعدها ، والحسنات والسيئات قد تتلازم ويدعو بعضها إلى بعض

“Diantara bentuk hukuman dari perbuatan buruk adalah keburukan sesudahnya, dan ganjaran dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Dan kebaikan atau keburukan masing-masing mempunyai keterkaitan satu sama lain, dan (bila kebaikan atau keburukan itu dilakukan) akan mengundang sebagian lainnya”

Lebih lanjut beliau juga mengatakan bahwa kejujuran adalah kunci dari segala kebajikan dan kedustaan adalah kunci dari segala keburukan.

Dampak Buruk dari Dusta

1. Dusta menimbulkan ketidaknyamanan di dalam hati

Secara medis orang yang suka berdusta akan mudah terkena tekanan jiwa dan stres. Seorang praktisi klinis, dr. Dr. H. Ari Fahrial Syam mengatakan, kedustaan bila berlarut akan menimbulkan gangguan jiwa (neurosis)baik berupa depresi maupun penyakit psikosomatik, suatu penyakit yang timbul akibat gangguan psikis.  Berbagai penyakit akan mudah kambuh di kala seseorang mengalami stres, asam lambung akan meningkat yang akhirnya menimbulkan keluhan berupa nyeri dan tidak nyaman di ulu hati. Orang yang mengalami penyakit psikosomatik akan mengalami diare atau bahkan sebalikinya akan mengalami kesulitan buang air besar. Di saat stres pula tekanan darah menjadi tidak terkontrol, gula darah juga tmenjadi tidak terkendali. Disamping itu stroke dan serangan jantung juga bisa terjadi karena stres. Pangkal semua yang disebutkan diatas adalah karena dusta atau bohong. Maka bisa kita pahami, bahwa sebenarnya dusta akan menimbulkan keraguan dan ketidaknyamanan di dalam hati sedangkan kejujuran akan melahirkan ketenangan. Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW;

فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ ، وَإِنَّ الْكَذِبَ رَيْبَةٌ

“Maka sesungguhnya kejujuran itu ketenangan, dan kedustaan itu keraguan” (HR. Tirmidzi)

2. Dusta menjatuhkan martabat

Seseorang bila sudah dikenal sebagai seorang pendusta maka akan hilang kepercayaan orang padanya. Jatuh harga dirinya dan rusak pula kredibilitas dan nama baiknya oleh sifat dusta yang dia pertontonkan baik berupa perkataan maupun perbuatan. Seseorang bila sudah kehilangan kepercayaan akibat sifat dusta dan tidak jujur maka ia akan mengalami berbagai kesulitan dalam hidupnya. Akhirnya juga berimbas pada sulitnya dalam mencari rezekinya. Bumi Allah yang luas pun akan dirasa sempit oleh karena sifat dusta yang dipelihara di dalam dirinya.

Ibnul Qoyyim mengatakan ‘Kedustaan adalah pangkal segala dosa -sebagaimana sabda Nabi SAW dalam hadits ibnu Mas’ud diatas. Dan pertama kali yang melakukan kedustaan dari diri manusia adalah lisannya, sehingga kalau lisan sudah berdusta maka rusaklah lisannya. Kemudian menjalar ke anggota badan lainnya, sehingga rusak pula amalnya sebagaimana dustanya lisan merusak tutur katanya. Meratalah kedustaan meliputi lisannya, amalnya dan setiap keadaannya sehingga berbagai kerusakan mengusai dirinya. Maka ia akan terlempar kepada kehancuran kecuali jika Allah mempertemukannya dengan penawar dusta, yaitu berlaku jujur dalam segala hal’.

3. Dusta merupakan indikator kemunafikan

Nifaq adalah memperlihatkan suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan isi hatinya, dan pelakunya disebut munafiq. Dalam kapasitas seorang pendusta, nifaq juga berarti mengucapkan sesuatu yang berbeda dengan apa yang dia sembunyikan di dalam hati.  Oleh karena itu dusta adalah salah satu tanda dari sifat munafik yang adal dalam diri seseorang. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda;

فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ ، وَإِنَّ الْكَذِبَ رَيْبَةٌ

 “Tanda orang munafik itu ada tiga, apabila berkata ia berdusta, apabila berjanji dia menyalahi, apabila dipercaya dia berkhianat”

Demikianlah, semakin banyak seseorang berbohong akan semakin banyak masalah dan kesulitan yang akan dia hadapi. Maka hidup apa adanya dan selalu berlaku jujur dan berkata benar adalah upaya yang bisa kita lakukan untuk tidak terjebak pada lingkaran dusta. Jangan karena takut tidak mendapat popularitas lantas membuat kita berbohong. Jangan pula karena ingn aman dari kejahatan dan kesalahan lantas membuat kita berdusta. Bohong atau dusta itu membinasakan meskipun membuat kita merasa aman!

Author: Cak Imron

Pengajar di pondok pesantren Hidayatullah Gresik sekaligus da'i kampung (mu'allim quro). Belajar menjadi seorang penulis bebas yang menuangkan ide, gagasan dan hikmah yang didapat melalui tulisan, diantaranya blog pribadi ini. Berharap apa yang ditulis mendapat ridha Allah dan bermanfaat serta menginspirasi banyak orang untuk berbuat kebaikan