Mati Su’ul Khatimah dan Penyebabnya

suul khatimah

Su’ul khotimah adalah suatu kondisi dimana seorang hamba meninggal dalam keadaan berpaling dari Allah Azza wa jalla, dalam keadaan melakukan maksiat kepada-Nya atau menyia-nyiakan perkara yang telah Allah wajibkan padanya. Semua itu  adalah pertanda su’ul khotimah yang sangat ditakutkan orang-orang yang memiliki ketaqwaan kepada Rabb-nya yang selalu memohon kepada-Nya agar dijauhkan dari kematian yang buruk seperti itu.

[pullquote]Ada seorang laki-laki yang hobi main catur. Sehari-hari siang dan malam dihabiskan untuk bermain catur. Ketika menghadapi detik-detik sakaratul maut dituntunkan padanya kalimat ‘Laa ilaaha illaalloh’. Diluar dugaan yang keluar dari mulutnya adalah kalimat ‘SKAK!’ dan dia mati dengan kalimat SKAK yang terucap dibibir”.[/pullquote]

Kadang-kadang nampak tanda-tanda su’ul khotimah pada sebagian orang yang hendak meninggal, seperti susahnya mengucap kalimat syahadat atau bahkan menolak untuk mengucapkannya meski orang-orang disekitarnya berusaha mentalkinnya, atau mengucapkan kemungkaran dan perkara-perkara yang diharamkan menjelang kematian yang seolah-olah dia tidak berlepas diri dari kemungkaran tersebut dan lain sebagianya.

Ada beberapa contoh fenomena su’ul khotimah yang bisa kita ambil sebagai i’tibar agar kita berhati-hati dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Imam Adz-Dzahabi dalam kitab Al-Kabair menceritakan ada seorang laki-laki yang hobi main catur. Sehari-hari siang dan malam dihabiskan untuk bermain catur. Ketika menghadapi detik-detik sakaratul maut dituntunkan padanya kalimat ‘Laa ilaaha illaalloh’. Diluar dugaan yang keluar dari mulutnya adalah kalimat ‘SKAK!’ dan dia mati dengan kalimat SKAK yang terucap dibibir.

Imam Adz-Dzahabi juga menceritakan dalam kitab yang sama, bahwa seseorang terbiasa duduk-duduk bersama kawan-kawannya untuk minum khomer. Tatkala datang kepadanya sakaratul maut datang seseorang yang mentalkinnya untuk mengucapkan Laa ilaaha illalloh. Di luar dugaan yang keluar dari mulutnya adalah ‘ayo minum, tuang lagi! Lalu dia mati.

Ibnul Qoyyim al-Jauziyah menceritakan di dalam kitabnya Al-Jawaabul Kaafi tentang seorang laki-laki yang hidupnya dihabiskan tenggelam dalam musik dan nyanyian. Ketika datang sakaratul maut dituntunkan kepadanya kalimat ‘Laa ilaaha illallooh’, bukannya menirukan malah dia bersenandung dan mengakhiri hidupnya dengan nyanyian, bukan dengan kalimat tauhid.

Beliau juga menceritakan dalam kitab yang sama, bahwa ada seorang saudagar kaya yang menghadapi sakaratul maut. Ditalkinkan padanya kalimat ‘Laa ilaaha illalloh’, bukannya mengikuti kalimat yang ditalkinkan padanya malah dia berkata ‘harga murah, harga murah, ini barang bagus, ini begini, ini begitu dan seterusnya. Hingga ajalnya tiba tidak juga ia mengucapkan kalimat tauhid.

Selanjutnya Ibnul Qoyyim al-Jauziyah mengatakan, kalau seorang hamba yang dalam keadaan sadar, sehat, kuat dan sempurna inderanya saja bisa dipedaya oleh syetan untuk melakukan kemakiatan kepada Allah, dilalaikan hatinya dari mengingat Allah, dinihilkan lisannya dari dzikir kepada Allah, dan dipalingkan badannya dari melakukan ketaatan kepada Allah, bisa dibayangkan bagaimana keadaannya ketika sudah tidak berdaya sementara hati dan jiwanya nya disibukkan dengan perkara dunia ketika menghadapi naza’. Maka di saat itu syetan menghimpun segenap kekuatan, daya dan upaya untuk menghalangi hamba yang sudah tidak berdaya tersebut agar terhalang dari kesempatan yang sangat menentukan nasibnya di alam barzakh dan di alam akhirat, yaitu mengucap kalimat tauhid ‘Laa ilaaha illalloh’. Posisi syetan sangat kuat di saat itu, dan di saat yang sama hamba yang sedang menghadapi sakaratul maut tersebut dalam posisi yang selemah-lemahnya. Siapa yang menjamin seorang hamba selamat dari godaan syetan pada waktu itu? Hanya orang-orang yang beriman dan yang melazimkan (membiasakan) diri untuk beramal sholihlah yang diberi taufiq oleh Allah untuk mengucapkan kalimat tauhid. Allah berfirman;

يُثَبِّتُ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّـهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّـهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Qs. Ibrahim 27)

Bagaimana bisa Allah memberi kemudahan seseorang menjalani husnul khotimah di akhir hayatnya bila hatinya selalu lalai dari mengingat Allah, selalu memperturutkan hawa nafsunya, menyia-nyiakan kewajibannya. Orang yang hatinya jauh dari Allah adalah orang yang lalai dari mengingat Allah, menjadi budak keinginan dan hawa nafsunya, lisannya kering dari dzikir, jasadnya sepi dari taat, malah sibuk dengan maksiat, lantas dari mana dia berharap husnul khotimah?.

Ada dua tingkatan su’ul khotimah; pertamahati yang ada keraguan bahkan pengingkaran kepada Allah, sehingga ia mati dalam keadaan seperti itu. Maka yang demikian akan menempatkannya dalam adzab yang kekal di dalam neraka. Kedua, lebih ringan dari itu yaitu hati yang sudah disibukkan dengan perkara dunia dan kesenangan syahwat yang diharamkan sehingga di saat sakaratul maut ia terefleksi dan menjadi gambaran di dalam hati. Seseorang  meninggal dunia dalam keadaan  sebagaimana yang biasa ia lakukan di saat hidup. Artinya, kalau ia biasa bermuamalah dengan riba, makan harta riba biasanya dia akan mati dalam keadaan melakukan muamalah riba. Ketika seseorang terbiasa mengkonsumsi miras, narkoba, cenderung kepada nyanyian, hobi menonton gambar dan film-film porno, suka berbuat dzalim kepada sesama, biasanya ia akan meninggal dalam keadaan sedang melakukan hal-hal itu, atau hati dan fikirannya disibukkan dengan kebiasaan buruk semasa hidupnya menjelang detik-detik kematiannya.

Sebab-sebab Su’ul Khotimah diantaranya;

  1. Rusaknya aqidah dan keyakinan
  2. Cenderung lebih mencintai kehidupan dunia dan menggantungkan hati padanya
  3. Keluar dari sifat istiqomah dalam melakukan ketaatan kepada Allah dan berpaling dari kebaikan dan tuntunan Allah dan rasul-Nya
  4. Tenggelam dalam kemaksiatan, karena seseorang yang terbiasa dalam kemaksiatan dalam hidupnya, mencintainya dan menjadi ketergantungan padanya maka perbuatan itu akan selalu hadir dipelupuk matanmya di saat dia mengalami sakaratul maut

Su’ul Khotimah, wal ‘iyaadzu billah, tidak akan dialami oleh seseorang yang amalan dhahirnya disbukkan dengan taat kepada Allah dan amalan bathin (hati) nya selalu takut kepada Allah, jujur dan benar antara perkataan dan perbuatannya. Su’ul khotimah hanya akan menimpa orang-orang yang rusak keyakinan dan aqidahnya, rusak amalannya, berani melakukan dosa-dosa besar, gemar meremehkan dosa-dosa kecil. Celakanya, dia tidak juga berhenti dan bertaubat dari semua itu hingga kematian datang menjemputnya.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita husnul Khotimah, aamiin.

Author: Cak Imron

Pengajar di pondok pesantren Hidayatullah Gresik sekaligus da'i kampung (mu'allim quro). Belajar menjadi seorang penulis bebas yang menuangkan ide, gagasan dan hikmah yang didapat melalui tulisan, diantaranya blog pribadi ini. Berharap apa yang ditulis mendapat ridha Allah dan bermanfaat serta menginspirasi banyak orang untuk berbuat kebaikan