Membantu Orang Lain dalam Kedzaliman

berbuat dzalim

Salah satu perilaku yang dibenci oleh Allah adalah perilaku aniaya atau dzalim, baik dzalim kepada diri sendiri dengan mengerjakan perbuatan maksiat atau lebih-lebih dzalim kepada orang lain dengan menimpakan madhorot dan marabahaya. Ini karena Allah itu lebih mencintai sifat adil sebagai lawan dari sifat dzalim. Dalam hadits qudsy Allah berfirman, “Wahai Hamba-Ku sesungguhnya Aku telah mengharamkan kedzaliman atas diri-Ku, maka Aku jadikan kedzaliman itu diharamkan antara kalian maka janganlah kalian saling mendzalimi”

Tidak hanya pelaku kedzaliman saja yang dimurkai dan dibenci oleh Allah, tetapi orang-orang yang ikut serta membantu orang lain berbuat dzalim dosanya tetap dipandang oleh Allah sama dengan pelaku kedzaliman. Allah telah mengharamkan seseorang untuk membantu orang lain dalam berbuat dzalim. Karena  itulah Allah mengancam bani Israel dengan kehinaan di dunia dan  adzab yang pedih pada hari kiamat kelak karena perilaku mereka yang suka tolong menolong dalam perbuatan dzalim.

تَظَاهَرُونَ عَلَيْهِم بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“ … kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan” (Qs. Albaqarah: 85)

Ayat ini menunjukkan bahwa berbuat dzalim adalah haram dan membantu perbuatan dzalim termasuk bagian dari kedzaliman itu sendiri. Banyak hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang memberi peringatan keras kepada umatnya untuk tidak berbuat dzalim kepada orang lain maupun membantu orang lain berbuat dzalim. Diantaranya adalah sabda beliau ;

إنَّ اللهَ تعالى يُعذِّبُ يومَ القيامةِ ، الَّذينَ يُعذِّبونَ النَّاسَ في الدُّنْيا

“Sesungguhnya Allah ta’ala pada hari kiamat kelak akan mengadzab orang-orang yang menyiksa manusia di dunia” (HR. Ahmad)

إنَّ أشدَّ الناسِ عذابًا يومَ القيامةِ أشدُّهم عذابًا للناسِ في الدنيا

“Sesungguhnya manusia yang paling keras adzabnya pada hari kiamat kelak adalah yang paling keras menyiksanya kepada manusia di dunia” (HR. Ahmad)

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ، عَارِيَاتٌ، مُمِيلاَتٌ، مَائِلاتٌ، رُؤُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari calon penghuni neraka yang aku belum pernah melihat mereka. Yaitu suatu kaum yang membawa cemeti laksana ekor sapi yang digunakan untuk menyiksa manusia. Dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, berjalan berlenggak-lenggok untuk menarik lawan jenisnya, kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidak akan masuk sorga dan tidak pula mendapat baunya. Padahal sesungguhnya bau sorga itu tercium dari jarak sekian-sekian” (HR. Bukhari)

ممَنْ أَعَانَ عَلَى خُصُومَةٍ بِظُلْمٍ، أَوْ يُعِينُ عَلَى ظُلْمٍ؛ لَمْ يَزَلْ فِي سَخَطِ اللَّهِ حَتَّى يَنْزِعَ

“Barangsiapa yang membantu permusuhan dengan kedzaliman, atau membantu suatu kedzaliman, maka ia senantiasa dalam kemurkaan Allah sehingga ia berlepas darinya” (HR. Abu Dawud)

مَثَل الَّذِي يُعِينُ قَوْمَهُ عَلَى غَيْرِ الْحَقِّ كَمَثَل بَعِيرٍ تَرَدَّى فِي بِئْرٍ فَهُوَ يَنْزِعُ مِنْهَا بِذَنَبِهِ

“Perumpamaan orang yang membantu kaumnya untuk berbuat perbuatan yang tidak dibenarkan itu seperti onta yang terperosok ke dalam sumur, dia berusaha mengangkat onta itu dengan ekornya” (HR. Abu Dawud)

Artinya ia terjatuh dalam perbuatan dosa. Ibarat onta yang terperosok kedalam sumur yang seseorang berusaha untuk menolongnya dengan menarik ekornya, maka hampir mustahil ia bisa mengeluarkan onta itu dari dalam sumur. Maka menolong orang lain agar lebih leluasa melakukan kedzaliman adalah suatu musibah besar bagi orang yang bersangkutan dan bagi orang lain. Dan Rasulullah SAW berlepas diri dari pelaku kedzaliman dan orang-orang yang membantu kedzaliman orang lain.

منْ أَعَانَ ظَالِماً لِيُدْحِضَ بِبَاطِلِهِ حَقّاً فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ الله وَذِمَّةُ رَسُولِهِ

“Barangsiapa yang membantu orang berbuat dzalim untuk melenyapkan kebenaran dengan kebatilan yang dilakukan, maka ia telah terlepas dari jaminan Allah dan rasulnya” (HR. Abu Dawud)

Perkataan Salaf tentang Membantu Pebuatan Dzalim

Diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal ketika beliau dipenjara karena menentang dogma penguasa tentang ‘Al-Qur’an adalah Makhluq’ salah seorang sipir penjara bertanya kepada beliau perihal hadits-hadits yang menerangkan tentang membantu orang berbuat dzalim. Sipir bertanya, “Apakah aku termasuk orang yang menolong kedzaliman?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak, engkau tidak menolong kedzaliman. Yang menolong kedzaliman adalah bila ada orang yang menjahitkan bajumu, atau memasakkan makananmu, atau menolongmu dalam perkara ini dan itu. Adapun engkau adalah pelaku kedzaliman itu sendiri !”

Diriwayatkan pula, pada suatu hari datanglah seorang penjahit mengahadap Sufyan At-Tsauri dan berkata kepada beliau, “Aku adalah tukang jahit kerajaan” Saat itu raja yang memerintah adalah raja yang sangat dzalim kepada rakyatnya. “Apakah aku termasuk orang yang membantu berbuat dzalim?” Tanyanya. Sufyan Ats-Tsauri menjawab, “Bahkan engkau adalah termasuk pelaku kedzaliman itu sendiri. Sesaungguhnya yang membantu berbuat dzalim adalah bila ada orang yang membelikan benang atau jarum untukmu”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata; Para salaf telah banyak yang mengatakan bahwa para pembantu kedzaliman adalah orang-orang yang menolong orang lain dalam berbuat dzalim meskipun mereka sekedar menyiapkan tinta atau pena untuk orang yang berbuat dzalim. Bahkan ada pula diantara salaf yang berkata bahwa mencucikan baju orang yang berbuat dzalim termasuk kedzaliman itu sendiri. Allah Azza wa Jalla berfirman;

مَّن يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُن لَّهُ نَصِيبٌ مِّنْهَا ۖ وَمَن يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُن لَّهُ كِفْلٌ مِّنْهَا

“Barangsiapa yang memberikan syafaat (pertolongan)  yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi pertolongan yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

[pullquote]bahwa semua yang terlibat dan membantu dalam transaksi riba adalah terlaknat. Mulai dari pemakan riba, pembayar ribanya,  juru tulisnya, saksi-saksinya. Pendek kata semua pekerjaan yang terkait dengan riba maka hukumnya adalah haram[/pullquote]

Kita sering berbicara tentang berbuat dzalim, tetapi kita sering mengabaikan hal ihwal membantu orang lain dalam berbuat berbuat dzalim. Ternyata memudahkan dan membantu orang dalam berbuat dzalim dosanya sama dengan orang yang berbuat dzalim itu sendiri. Misalnya tentang larangan memakan riba yang disebut dalam hadits yang bersumber dari Sahabat Jabir bin Abdillah;

للَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُؤْكِلَهُ، وَكَاتِبَهُ ، وَشَاهِدَيْهِ ) ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

“Rasulullah telah melaknat pemakan riba, yang membayar ribanya, juru tulisnya dan kedua saksinya. Jabir berkata, mereka semua sama (dosanya)” (HR. Muslim)

Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa semua yang terlibat dan membantu dalam transaksi riba adalah terlaknat. Mulai dari pemakan riba, pembayar ribanya,  juru tulisnya, saksi-saksinya. Pendek kata semua pekerjaan yang terkait dengan riba maka hukumnya adalah haram. Demikian fatwa para ulama.

Senada dengan hadits diatas, Ibnu Umar juga meriwayatkan dari Nabi SAW tentang haramnya khamer dan semua mata rantai pekerjaan yang terkait dengannya;

لَعَنَ اللَّهُ الْخَمْرَ وَلَعَنَ شَارِبَهَا وَسَاقِيَهَا وَعَاصِرَهَا وَمُعْتَصِرَهَا وَبَائِعَهَا وَمُبْتَاعَهَا وَحَامِلَهَا وَالْمَحْمُولَةَ إِلَيْهِ وَآكِلَ ثَمَنِهَا

“Allah melaknat khamer, peminumnya, penuangnya, yang mengoplos, yang minta dioploskan, penjualnya, pembelinya, pengangkutnya, yang minta diangkut, serta orang yang memakan keuntungannya.” (HR. Ahmad: 5458)

Dalam hadits diatas semua aktivitas mulai dari produsennya, konsumennya, distributornya, ekspedisinya dan semua yang mendukung  peredaran khamer (miras) dinyatakan dinyatakan sama-sama berdosa dan dilaknat oleh Allah SWT.

Menolong Orang Yang Terdzalimi

Islam tidak hanya melarang seseorang untuk menjauhi kedzaliman dan membantu perbuatan dzalim. Islam juga menganjurkan umatnya untuk menolong orang yang terdzalimi. Ibnu Mas’ud meriwayatkan dari Nabi SAW yang bersabda;

أُمِرَ بِعَبْدٍ من عِبَادِ اللهِ أَنْ يُضْرَبَ في قَبْرِهِ مِائَةَ جَلْدَةٍ، فلم يَزَلْ يَسْأَلُ وَيَدْعُو، حتى صَارَتْ جَلْدَةً وَاحِدَةً، فَجُلِدَ جَلْدَةً وَاحِدَةً، فامتلأ قَبْرُهُ عليه نَارًا، فلما ارْتَفَعَ عنه قال: عَلاَمَ جَلَدْتُمُونِي؟ قالوا: إنَّك صَلَّيْت صَلاَةً بِغَيْرِ طُهُورٍ، وَمَرَرْتَ على مَظْلُومٍ فلم تَنْصُرْه

“Seorang hamba diperintahkan untuk dicambuk di dalam kuburnya seratus kali cambukan. Ia tiada henti-hentinya bertanya dan memohon, sehingga menjadi satu cambukan, maka ia dicambuk dengan satu cambukan. Lalu penuhlah kuburnya dengan api. Ketika terangkat (cambukan) ia bertanya; kenapa kalian mencambukku? mereka (penjaga kubur) berkata; engkau sholat tanpa bersuci, dan engkau melintas di depan orang yang terdzalimi namun engkau tidak menolongnya”.

لا يَقِفَنَّ أَحَدُكُمْ مَوْقِفًا يُقْتَلُ فِيهِ رَجُلٌ ظُلْمًا ، فَإِنَّ اللَّعْنَةَ تَنْزِلُ عَلَى مَنْ حَضَرَ حِينَ لَمْ يَدْفَعُوا عَنْهُ ، وَلا يَقِفَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ مَوْقِفًا يُضْرَبُ فِيهِ أَحَدٌ ظُلْمًا ، فَإِنَّ اللَّعْنَةَ تَنْزِلُ عَلَى مَنْ حَضَرَهُ حِينَ لَمْ يَدْفَعُوا عَنْهُ

“Janganlah engkau berdiri di tempat dimana seseorang dibunuh secara dzalim, karena sesungguhnya laknat Allah turun kepada setiap yang hadir namun tidak berusaha mencegahnya. Dan jangan pula kalian berdiri di tempat dimana seseorang dipukul secara dzalim, maka sesungguhnya laknat Allah sedang turun pada saetiap yang hadir namun mereka tidak berusaha mencegahnya” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Author: Cak Imron

Pengajar di pondok pesantren Hidayatullah Gresik sekaligus da'i kampung (mu'allim quro). Belajar menjadi seorang penulis bebas yang menuangkan ide, gagasan dan hikmah yang didapat melalui tulisan, diantaranya blog pribadi ini. Berharap apa yang ditulis mendapat ridha Allah dan bermanfaat serta menginspirasi banyak orang untuk berbuat kebaikan