Mendulang Manfaat dengan Bersyukur

Aku merasa orang termiskin di dunia

Yang penuh derita bermandikan air mata

Begitulah lirik lagu dangdut karya Hamdan ATT yang pernah populer di awal tahun 2000an. Lagu yang biasa diputar di warung-warung kopi dan kedai kaki lima sambil nyeruput kopi , he..he..he.. Tapi saya tidak akan membahas tentang lagu apalagi dangdut  dan sejenisnya. Saya akan membahas dahsyatnya bersyukur.

Seandainya apa yang dikatakan Hamdan ATT diatas benar-benar menimpa kita, sebagai orang termiskin di dunia, kita sepatutnya bertanya pada diri kita sendiri benarkah kita adalah orang termiskin di dunia, yang penuh derita dan bermandikan air mata?

Ternyata seberapa pun menyedihkannya keadaan kita, kalau kita perhatikan masih banyak orang-orang yang kurang beruntung dibanding kita. Orang cacat, pengemis, anak jalanan dan orang-orang yang kelaparan adalah sebagian dari mereka yang hidupnya kurang beruntung di banding kita. Kita merasa menjadi orang yang paling sengsara karena yang kita jadikan pembanding adalah adalah orang-orang  yang jauh lebih beruntung menurut kita. Lebih makmur,  lebih kaya, yang rumahnya besar, mobilnya mewah dan sebagainya.

Ketika yang kita jadikan pembanding adalah orang-orang yang secara duniawi lebih diatas kita maka yang muncul di hati adalah selalu merasa kurang dengan pemberian Allah kepada kita, kita merasa sebagai orang yang paling miskin di lingkungan kita, atau seolah-olah ketidakberuntungan selalu menyelimuti hidup kita. Sebaliknya kalau yang kita jadikan pembanding adalah orang-orang yang secara duniawi lebih rendah daripada kita maka akan akan menumbuhkan sifat qona’ah di dalam hati dan merasa cukup dengan apa yang telah diberikan Allah berupa rezeki dan akhirnya menumbuhkan rasa syukur di dalam hati. Orang yang berhati qona’ah hidupnya akan tenang dan bahagia. Rasa bersyukur akan membuat hati merasa tenang dan tenteram dan tidak gelisah dengan berbagai keinginan keduniaan.

Dalam hadits yang diiwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW memberi wasiat yang sangat berharga kepada umatnya;

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ ‏ ‏أَجْدَرُ ‏ ‏أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّه

“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah darimu (dalam urusan duniawi) dan janganlah melihat kepada orang yang lebih tinggi darimu. Yang demikian lebih patut agar kalian tidak menyepelekan nikmat Allah”

Inilah tuntunan Rasulullah SAW yang paling ampuh untuk mengikis keserakahan di dalam hati dan metode  yang paling jitu untuk menumbuhkan rasa syukur terhadap nikmat Allah. Ketika ia melihat orang yang diuji oleh Allah dengan sakit ia bersyukur kepada Allah diberi sehat wal afiat. Disaat dia melihat orang yang tidak mempunyai tempat tinggal ia bersyukur kepada Allah masih diberi nikmat berupa rumah yang bisa ditinggali meskipun ngontrak. Saat dia melihat orang yang tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan dia bersyukur kepada Allah masih diberi rezeki yang bisa dimakan pada hari itu. Begitu seterusnya.

Tapi banyak juga macam orang yang suka memandang rumput tetangga lebih hijau dari rumputnya. Penyakit iri dan dengki pun bertokol di dalam hatinya. Tetangga membangun rumah tiba-tiba hatinya dongkol. Ketika tetangga beli motor batinnya tersiksa. Beberapa saat kemudian sang tetangga beli mobil, penyakit jantungnya kumat. Waktu tetangga beli helikopter hidupnya kiamat. Orang semacam ini tidak akan pernah mengalami rasa syukur di dalam hidupnya. Orang yang ada penyakit iri dan dengki tidak akan pernah merasa bahagia meskipun dia memiliki segala-galanya.

Dalam artikelnya yang berjudul Why Gratitude is Good? yang dimuat di  www.dailygood.org  Dr. Robert Emmon yang telah melakukan penelitian terhadap lebih dari seribu orang yang berusia antara delapan hingga delapan puluh tahun tentang gratitude (bersyukur) mengatakan bahwa orang yang bersyukur mempunyai banyak manfaat, baik secara fisik, psikologis maupun sosial.

Secara fisik orang yang bersyukur memiliki sistem kekebalan tubuh yang kuat, jarang terkena sakit kepala dan nyeri, menurunkan tekanan darah, kesehatan lebih terjaga, tidur lebih berkwalitas dan merasa segar ketika bangun tidur.

Secara psikis orang yang bersyukur mempunyai tingkat emosi yang positif, lebih berhati-hati, hari-hari lebih hidup, lebih ceria dan menyenangkan, lebih optimis dan berbahagia.

Dan secara sosial orang yang pandai bersyukur akan mudah menolong, bermurah hati, penuh kasih kepada sesama, mudah memaafkan dan tidak pernah merasa kesepian.

Namun yang jelas jauh sebelum Robert Emmons melakukan penelitiannya, Allah SWT telah memberi jaminan kebaikan dan kebahagiaan bagi mereka yang mau bersyukur;

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan ingatlah, tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Qs. Ibrahim: 7)

 

Author: Cak Imron

Pengajar di pondok pesantren Hidayatullah Gresik sekaligus da'i kampung (mu'allim quro). Belajar menjadi seorang penulis bebas yang menuangkan ide, gagasan dan hikmah yang didapat melalui tulisan, diantaranya blog pribadi ini. Berharap apa yang ditulis mendapat ridha Allah dan bermanfaat serta menginspirasi banyak orang untuk berbuat kebaikan