Mulia dengan Bekerja

pencari kayu bakar

Islam menghendaki umatnya menjadi umat yang produktif, berdikari, mandiri sehingga bisa memberi manfaat kepada dirinya sendiri dan orang lain. Allah SWT sangat menyukai hambanya yang berdikari, berkarya dan bekerja mencari rezeki yang halal untuk menafkahi diri dan keluarganya. Karena dengan bekerja seseorang akan terjaga harga dirinya serta terhindar dari perbuatan meminta-minta yang itu adalah perbuatan nista dalam agama.  Dalam hadits Ibnu Umar Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda;

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ

“Sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yang bekerja” (HR. Thobroni)

Dalam Islam, bekerja untuk mencari rezeki halal bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan perut. Namun lebih dari itu Islam memandang bekerja sebagai upaya untuk memelihara harga diri dan menjaga martabat kemanusiaan baik di mata manusia maupun di hadapan Allah Azza wa Jalla. Oleh karenanya, bekerja di dalam Islam menempati posisi yang mulia. Bahkan Allah sangat mengapresiasi  seorang mukmin yang bekerja mencari nafkah dengan kedua tangannya  dan tidak menggantungkan hidupnya kepada orang lain sehingga menjadi beban hidup buat mereka. Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda;

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَاماً خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan oleh pekerjaan tangannya, sesungguhnya Nabiyullah Dawud beliau makan dari hasil pekerjaan tangannya” (HR. Bukhori)

Bahkan rasa lelah dan capek di dalam mencari nafkah yang halal akan menggugurkan dosa-dosa, baik mencari nafkah untuk menafkahi keluarga maupun menafkahi diri sendiri agar terhindar dari sifat meminta-minta. Yang demikian telah disabdakan oleh Baginda Rasulullah SAW ;

ممَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبِ وَلا وَصَبٍ وَلاهَمٍ، وَلا حَزَنٍ وَلا غَمٍّ، وَلا أَذًى، حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا، إِلا كَفَّرَ اللَّهُ تَعَالَى بِهَا خَطَايَاهُ 

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari)

Senada dengan hadits diatas. Imam Ath-Thobroni juga meriwayatkan hadits yang menerangkan tentang keutamaan lelah karena bekerja untuk mencari nafkah. Rasulullah mengatakan;

مَنْ أَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدَيْهِ أَمْسَى مَغْفُوْرًا لَهُ 

“Barangsiapa yang pada sore hari merasa lelah karena bekerja dengan kedua tangannya, maka di sore hari itu ia telah diampuni dosanya oleh Allah”

Oleh karena itu Islam mengecam orang yang pemalas, yang tidak mau bekerja padahal dia mampu dan hanya menggantungkan hidup kepada belas kasih orang lain dan menjadi beban hidup orang lain.

Sebuah kisah yang sangat menarik diceritakan dalam  hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, dari Sahabat Anas bin Malik radiyallohu ‘anhu. Seorang pemuda miskin yang secara fisik nampak gagah dan kuat datang kepada Rasulullah untuk meminta bagian sedekah. “Wahai Rasulullah, berilah hamba sedekah” pinta sang pemuda. Rasulullah memandang pemuda tersebut dengan cermat, kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya sedekah itu tidak halal bagi orang yang berkecukupan dan mampu bekerja. Apa yang engkau miliki?”

Pemuda itu menjawab, “Alas pelana yang Kami pakai sebagiannya dan Kami hamparkan sebagiannya, serta gelas besar yang gunakan untuk minum air. Beliau berkata: “Bawalah keduanya kepadaku.” Lalu diberikannya pelana dan gelas tersebut di hadapan Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam. Sesaat kedua barang itu ditimang-timang dan dilihat oleh Rasulullah kemudian beliau melelang barang bekas milik si pemuda miskin tadi kepada para sahabat yang ada bersama beliau. “Siapakah yang mau membeli kedua barang ini?” Kata beliau.

Agak lama Rasulullah menunggu orang yang mau membeli barang bekas milik pemuda tadi hingga akhirnya salah seorang sahabat Anshor mengacungkan tangan sambil berkata, “Saya Ya Rasulullah, saya akan membelinya dengan satu dirham”. Beliau berkata, “Barangkali ada yang mau membeli lebih dari satu dirham?” Beliau mengataknnya hingga dua atau tiga kali. Hingga akhirnya salah seorang sahabat lainnya mengacungkan tangannya, “Saya akan membelinya dengan dua dirham, wahai Rasulullah!” Maka disepakatilah harga dua dirham untuk kedua barang bekas kepunyaan pemuda miskin tersebut. Uang dua dirham hasil lelang pelana dan gelas bekas tersebut oleh Rasulullah kemudian diberikan kepada si pemuda miskin itu. “Dengan dua dirham ini, belilah makanan dengan satu dirham kemudian berikan kepada keluargamu, dan satu dirham sisanya belilah kapak kemudian bawalah kepadaku.” Begitu perintah Baginda Nabi kepada sang pemuda.

Bergegaslah pemuda tersebut membeli makanan untuk diberikan kepada keluarganya berikuat sebuah kapak sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam. Diberikannya kapak yang telah dibeli tadi kepada Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau memasangkan kayu pada kapak tersebut dengan tangan beliau kemudian berkata kepadanya, “Pergilah, carilah kayu kemudian juallah. Setelah ini jangan sampai engkau menemui aku kecuali setelah lima belas hari.”

Pemuda tersebut pergi mencari kayu bakar di hutan dan menjualnya di pasar. Uang yang diperoleh dari menjual kayu sebagian disimpan dan sebagiannya lagi digunakan untuk membeli pakaian dan makanan. Setelah berlalu lima belas hari pemuda tersebut datang menemui Rasulullah dengan wajah berseri-seri dan mengenakan pakaian yang layak. Sungguh penampilannya kini jauh lebih baik dari penampilannya saat bertemu dengan Rasulullah lima belas hari sebelumnya yang kusut, lusuh dan tidak ada semangat terpancar di wajahnya.

Rasulullah menyambut pemuda tersebut dengan senyum yang mengembang dibibir beliau, kemudian bersabda;

هَذَا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَجِيءَ الْمَسْأَلَةُ نُكْتَةً فِي وَجْهِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لَا تَصْلُحُ إِلَّا لِثَلَاثَةٍ لِذِي فَقْرٍ مُدْقِعٍ أَوْ لِذِي غُرْمٍ مُفْظِعٍ أَوْ لِذِي دَمٍ مُوجِعٍ 

“Ini lebih baik bagimu daripada sikap meminta-minta datang sebagai noktah di wajahmu pada Hari Kiamat. Sesungguhnya sikap meminta-minta tidak layak kecuali untuk tiga orang, yaitu untuk orang fakir dan miskin, atau orang yang memiliki hutang sangat berat, atau orang yang menanggung diyah (sementara ia tidak mampu membayarnya).” (HR. Abu Daud: 1398)

Demikianlah, dengan bekerja mencari rezeki yang halal seseorang akan memperoleh kemulyaan di hadapan Allah dan akan terjaga harga dirinya di hadapan manusia.

Author: Cak Imron

Pengajar di pondok pesantren Hidayatullah Gresik sekaligus da'i kampung (mu'allim quro). Belajar menjadi seorang penulis bebas yang menuangkan ide, gagasan dan hikmah yang didapat melalui tulisan, diantaranya blog pribadi ini. Berharap apa yang ditulis mendapat ridha Allah dan bermanfaat serta menginspirasi banyak orang untuk berbuat kebaikan