Ya Rasulullah, Izinkan Saya Berzina

Kalau kita mengamati kehidupan Rasulullah SAW maka kita akan mendapati akhlak beliau yang mengagumkan dalam bermuamalah dengan setiap orang. Sikap bijaksana beliau dalam mendidik, kelemahlembutan  dalam meluruskan kesalahan seseorang dan metode yang beliau gunakan dalam menyelesaikan setiap permasalahan begitu memukau dan menakjubkan. Tercatat dalam banyak hadits keelokan beliau dalam mendidik umatnya yang patut untuk diteladani oleh setiap muslim khususnya para orang tua, pendidik, da’i dan lain sebagainya.

Diantara salah satu contoh metode yang diperlihatkan oleh Rasulullah dalam mendidik adalah sebagaimana yang tertulis dalam  hadits riwayat Ahmad.

Suatu ketika datanglah seorang pemuda kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam lalu berkata; “Wahai Rasulullah! Izinkan hamba untuk berzina”. Para sahabat yang ada bersama Nabi pun gempar. Mereka beramai-ramai menghardik pemuda yang dirasa bersikap kurang ajar tersebut. Mereka tidak habis pikir, berani sekali pemuda tersebut meminta izin kepada Rasulullah untuk melakukan dosa besar. Mungkin dia pikir dengan mendapat izin dari Rasulullah untuk berzina maka tidak ada dosa baginya.

Rasulullah pun menenangkan para sahabat dan memanggil pemuda tersebut seraya berkata; “Mendekatlah.” Pemuda itu mendekat lalu duduk dihadapan Rasulullah kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkata kepadanya; “Apa engkau suka apabila zina itu terjadi pada ibumu?” pemuda itu menjawab; “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Orang-orang pun juga tidak menginginkan itu terjadi dengan ibu-ibu mereka”

Rasulullah bertanya lagi, ” Apa engkau suka zina itu terjadi pada putrimu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah semoga Allah menjadikanku sebagai penebus Tuan”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Orang-orang pun juga tidak menginginkan itu terjadi dengan putri-putri mereka.”

Rasulullah lalu bertanya lagi ” Apa engkau suka zina itu terjadi pada bibi dari ayahmu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Orang-orang pun juga tidak menginginkan itu terjadi dengan bibi-bibi mereka.”

Rasulullah kemudian bertanya lagi, ” Apa engkau suka zina itu terjadi pada bibimu dari pihak ibu?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, demi Allah wahai Rasulullah”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Orang-orang pun juga tidak menginginkan itu terjadi dengan bibi-bibi mereka.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihiWasallam meletakkan tangan beliau pada pemuda itu dan berdoa;

اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

“Ya Allah! Ampunilah dosanya, bersihkan hatinya, jagalah kemaluannya.”

Setelah diberi nasihat oleh Rasulullah dan didoakan oleh beliau, tidak ada suatu dosa pun yang lebih dibenci oleh pemuda tersebut kecuali zina. Dia menjadi sangat membenci zina dan perbuatan-perbuatan yang mendekatkan dirinya kepada zina, suatu perbuatan dosa besar yang dulunya dia tidak kuasa untuk meninggalkannnya.

Perhatikanlah, ketika para sahabat menghardik pemuda itu Nabi justru menyuruhnya mendekat dan bersikap lembut kepadanya. Dengan penuh kelembutan beliau menjelaskan kepada pemuda tersebut tentang betapa buruk keinginannya dan akibat yang akan dia tanggung kalau sampai melakukan zina. Dalam hadits ini, Rasulullah memberi teladan kepada para murobbi, para pendidik dan para da’i untuk bersikap lembut kepada orang-orang awam yang tidak berpengetahuan dalam memberikan pengertian dan pengajaran kepada mereka. Matode ini tentunya lebih banyak membawa manfaat daripada bersikap keras kepada mereka. Sekali lagi, tidak sepatutnya bersikap keras kepada orang yang awam masalah agama dan tidak berpengetahuan. Bersikap lemah lembut dan bijaksana adalah metode terbaik untuk membimbing hati dan pikiran mereka ke jalan yang benar.

Apa yang dilakukan oleh rasulullah dalam hadits diatas mengandung dua metode pendekatan dalam tarbiyah. Pertama metode pendekatan perasaan (al-usluub al-‘athify), yaitu ketika Rasulullah meminta pemuda tersebut untuk mendekat, setelah itu beliau meletakkan tangannya pada pemuda tersebut dan mendoakannya, “Ya Allah! Ampunilah dosanya, bersihkan hatinya, jagalah kemaluannya.” 

Kedua, selain pendekatan perasaan, beliau juga menggunakan metode pendekatan logika (al-usluub al-‘aqly) di dalam memberi pemahaman dan kesadaran kepada pemuda tersebut. Hal itu sebagaimana pertanyaan beliau dengan penuh santun ‘Apa engkau suka kalau zina itu terjadi pada ibumu, atau anakmu, atau bibimu?’ beliau sebutkan orang-orang yang dikasihi oleh pemuda itu untuk lebih menyentuh perasaannya bahwa zina adalah suatu perbuatan dhalim. Karena wanita yang dizinahi boleh jadi mereka adalah ibu orang lain, atau istri, atau putri atau bibi orang lain yang tentunya ia tidak ingin itu terjadi pada ibu, istri, anak, atau bibinya.

Maka, tidak ada manusia yang luput dari salah. Karena sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap manusia pasti pernah bersalah. Sebagaimana yang disabdakan rasulullah SAW;

كُلُّ بَنِي أَدَمَ خَطَّاءٌ وَ خَيْرُ الخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap manusia pasti bersalah. Dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertaubat” (HR. Tirmidzi)

Orang yang bersalah kadang-kadang tidak menyadari kalau dia bersalah. Memberi tahu dan memberi pemahaman dengan cara yang baik dan bijak adalah mutlak diperlukan agar dia menyadari bahwa dia bersalah.

Ibnu Jarir berkata, “Dalam hadits ini ada pelajaran untuk bersikap lemah lembut kepada orang awam dalam memberikan pemahaman  dan pengajaran dengan tanpa berbuat kasar dan keras kepadanya, kecuali kalau memang ia sengaja menentang kebenaran”

 

Author: Cak Imron

Pengajar di pondok pesantren Hidayatullah Gresik sekaligus da'i kampung (mu'allim quro). Belajar menjadi seorang penulis bebas yang menuangkan ide, gagasan dan hikmah yang didapat melalui tulisan, diantaranya blog pribadi ini. Berharap apa yang ditulis mendapat ridha Allah dan bermanfaat serta menginspirasi banyak orang untuk berbuat kebaikan